Paradoks Religiusitas Indonesia: Agama Sentral tapi Krisis Lingkungan Memburuk
Paradoks Indonesia: Agama Sentral tapi Lingkungan Rusak

Paradoks Religiusitas Indonesia: Agama Sentral tapi Krisis Lingkungan Memburuk

Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis ekologis yang semakin nyata dan mengkhawatirkan. Berbagai masalah lingkungan seperti deforestasi masif, masyarakat adat yang kehilangan hutan warisannya, pencemaran sungai yang parah, krisis air bersih yang meluas, hingga bencana ekologis berulang seperti yang baru-baru ini terjadi di Sumatra terus menghantui negeri ini. Ironisnya, semua kerusakan lingkungan ini terjadi di salah satu negara paling religius di dunia.

Peringkat Religiusitas Indonesia di Mata Global

Berbagai survei global secara konsisten menempatkan Indonesia dalam posisi teratas negara-negara yang menganggap agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pew Research Center dalam laporannya tahun 2014 yang diperbarui pada 2023, World Values Survey periode 2017–2022, dan Gallup Global Religiosity Index semuanya mencatat Indonesia berada dalam 10 besar negara dengan tingkat religiusitas tertinggi di dunia. Data-data ini menunjukkan betapa sentralnya peran agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pertanyaan Mendasar tentang Hubungan Agama dan Lingkungan

Muncul pertanyaan sederhana namun mendasar: jika agama begitu sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, mengapa krisis lingkungan justru terus memburuk? Padahal semua agama besar yang ada di Indonesia mengajarkan kepada umatnya untuk merawat lingkungan dengan baik dan menolak segala bentuk kerusakan di muka bumi. Ajaran-ajaran agama tersebut dengan jelas menyatakan kewajiban umat beragama untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai amanat yang Tuhan berikan kepada manusia.

Fakta yang lebih memprihatinkan lagi adalah Indonesia justru memiliki laju deforestasi tercepat di Asia Tenggara. Hutan-hutan yang seharusnya dilindungi sebagai bagian dari kewajiban religius justru terus menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Sungai-sungai yang dalam banyak tradisi agama dianggap suci justru tercemar limbah industri dan rumah tangga.

Relevansi Ekoteologi dalam Konteks Indonesia

Di sinilah konsep ekoteologi seharusnya menemukan relevansinya yang paling kuat. Ekoteologi sebagai pendekatan teologis yang menekankan hubungan antara iman dan tanggung jawab lingkungan seharusnya bisa menjadi jawaban atas paradoks yang terjadi. Pendekatan ini mengajak umat beragama untuk tidak hanya mempraktikkan ritual keagamaan secara formal, tetapi juga mewujudkan nilai-nilai agama dalam tindakan nyata melindungi lingkungan.

Krisis ekologis yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk bencana ekologis berulang di Sumatra, seharusnya menjadi alarm peringatan bahwa ada kesenjangan antara keyakinan religius yang dianut dan praktik pelestarian lingkungan yang dijalankan. Masyarakat adat yang kehilangan hutannya, petani yang kesulitan mendapatkan air bersih, dan warga yang terdampak bencana ekologis semuanya menjadi korban dari paradoks religiusitas ini.

Pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia seharusnya menjadi modal besar untuk mengatasi krisis lingkungan. Nilai-nilai keagamaan tentang penghormatan terhadap alam, tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, dan larangan terhadap perusakan lingkungan semuanya tersedia dalam khazanah keagamaan Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah transformasi dari keyakinan religius menjadi aksi nyata pelestarian lingkungan yang konsisten dan berkelanjutan.