Sore itu, wajah Nurdin bersimbah darah. Merah tua bercampur hitam menempel di pipi, pelipis, hingga telinganya. Cipratan darah hewan kurban Iduladha terlihat di kaos yang ia pakai, sudah mengering saat ia berbincang dengan awak media, termasuk CNNIndonesia.com, pada Kamis (28/5).
Peran Kunci di Balik Layar
Di tengah hiruk pikuk pemotongan kurban di Masjid Istiqlal, Nurdin berdiri seperti orang yang paling tahu harus bergerak ke mana. Ia bukan pemegang pisau panjang untuk menyembelih, tetapi di tangannya banyak keputusan diambil. Nurdin adalah kepala potong dari Amanah Bersama, pihak yang menangani pemotongan hewan kurban di Istiqlal tahun ini. Ia juga menjadi bagian dari tim jagal yang menangani dua sapi kurban paling menyita perhatian, yaitu sapi sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Perannya berada di tim ringkus. Nama yang terdengar sederhana, tetapi pekerjaannya jauh dari ringan. Tugasnya memastikan sapi ditidurkan dalam posisi tepat sebelum disembelih. Ia mengatur orang-orang yang menarik tambang, menahan badan, menjaga kaki tetap terikat, sampai memastikan kepala sapi tak bergerak saat pisau mulai menyayat leher.
Penanganan Khusus Sapi Raksasa
Untuk sapi berbobot lebih dari satu ton, kata Nurdin, tali tambang harus dipasang berlapis. "Kalau sapi gede emang ada penanganan khusus. Jadi ikat tambangnya itu kalau di kaki mesti dobel," ujarnya ketika berbincang bersama sejumlah awak media di depan RPH Masjid Istiqlal.
Saat Si Loreng, nama sapi kurban Prabowo di Masjid Istiqlal, dibaringkan ke lantai rumah potong, Nurdin mengambil posisi paling dekat dengan kepala. Mengenakan peci cokelat, ia menahan bagian kepala dengan sigap. Tangan kanannya hanya berjarak beberapa telapak dari bilah pisau jagal. "Kalau kepalanya goyang sedikit, bisa kena tangan yang motong," katanya.
Saat sayatan pertama mengenai leher, darah menyembur deras ke berbagai arah. Mengenai lantai, mengenai baju, namun Nurdin bergeming. Ia tetap memegang kepala sapi erat-erat sambil mengawasi gerak penyembelih. Ia pun mengangkat tangan sebagai tanda berhenti. Di arena itu, Nurdin seperti dirigen. Bedanya, ia tidak berdiri di panggung konser dengan setelan jas hitam. Ia berdiri di lantai rumah potong dengan tangan berlumuran darah.
Kepiawaian yang Terasah Selama 30 Tahun
Peran serupa kembali ia jalankan saat pemotongan Wirabumi, sapi kurban dari Gibran. Sekali lagi ia mengatur ritme, memastikan kaki terikat sempurna. Berpindah ke bagian kepala, Nurdin mengawasi jalannya penyembelihan. Ketika waktu menyayat dirasa cukup, lambaian tangannya menjadi aba-aba terakhir yang langsung dipatuhi. Dua sapi dari RI 1 dan RI 2 itu dipotong lancar.
Kepiawaian Nurdin tidak datang dalam semalam. Ia telah menggeluti pekerjaan ini sejak 1993. Tiga dekade lebih bergelut dengan urusan pemotongan hewan, ia sudah paham luar kepala bagaimana meringkus seekor sapi. "Dulu mah tiga orang cukup. Sekarang enggak bisa," katanya sambil tertawa kecil. Ukuran sapi sekarang jauh lebih besar. Bobot lima kuintal dulu dianggap besar. Kini banyak yang menembus lebih dari itu. Untuk sapi berukuran jumbo, minimal enam orang dibutuhkan hanya untuk mengendalikan tubuhnya.
Jam terbang panjang itu pula yang membawanya menjadi kepala potong. Tahun ini, Nurdin turut merasakan geliat kurban yang semakin bergairah dibanding sebelumnya. Pada kurban ini, tim Amanah Bersama ditugaskan mengurus hampir 500 hewan dipotong di berbagai titik tempat mereka bertugas. Angka ini meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya.
Prioritas Bukanlah Uang
Meski begitu, Nurdin tak terlalu bicara soal penghasilan. Baginya, urusan uang bukan hal utama. "Kita Alhamdulillah yang penting selamat saja. Kalau uang mah enggak jadi patokan," ujarnya. Di dalam satu tim jagal, kata dia, ada banyak peran yang bekerja bersama. Ada tim ringkus, penyembelih, orang yang menguliti, orang yang memisahkan kepala, hingga orang yang melepas kaki. Semua bergerak seperti satu mesin besar yang harus kompak.
Menjelang sore, darah di wajah Nurdin mulai mengering lebih pekat. Sebagian menempel di kerah bajunya. Dua sapi utama hari itu sudah selesai dipotong. Kerja panjang sejak pagi akhirnya tuntas. Di ujung obrolan, Nurdin sempat menyampaikan satu harapan sederhana. Suatu hari nanti, kalau diberi kesempatan, ia ingin menjadi pemeran utamanya. Bukan lagi memegang kepala sapi di sisi paling depan, melainkan menjadi orang yang memegang pisaunya.
"Bang, kalau tahun depan disuruh potong sapi Presiden mau enggak? Misalnya abang yang menggorok," tanya kami para awak media. "Insyaallah," jawabnya sambil tersenyum.



