Krisis Kelaparan Global Terabaikan, Media Lebih Fokus pada Olahraga dan Hiburan
Krisis Kelaparan Global Terabaikan oleh Media dan Politik

Krisis Kelaparan Global Terabaikan, Media Lebih Fokus pada Olahraga dan Hiburan

Menurut para analis, krisis kelaparan parah yang melanda negara-negara di Bumi Selatan tidak mendapatkan perhatian media maupun politik yang semestinya. Ironisnya, anggaran untuk persenjataan jauh lebih besar dibandingkan dengan dana bantuan pangan, mengabaikan penderitaan jutaan manusia.

Kisah Pilu dari Nigeria: Keluarga Bertahan Hidup dengan Mengemis

Amina Suleman terpaksa meninggalkan desanya di Maradun, negara bagian Zamfara, barat laut Nigeria, untuk menghindari serangan militan islamis yang terjadi tujuh tahun lalu. "Mereka membunuh banyak orang, menjarah harta benda dan ternak kami. Mereka membakar semuanya, termasuk persediaan makanan," tuturnya dengan pilu. Hingga kini, situasi keamanan belum membaik, dengan pasukan pemerintah masih berperang melawan milisi jihadis dan kelompok bandit.

Saat ini, Suleman tinggal bersama tujuh anaknya di sebuah bangunan kosong dekat Sokoto. "Anak-anak kami harus keluar mengemis agar kami bisa makan. Kami tidak punya sumber makanan selain dari mengemis. Jika mereka mendapat sedikit uang, kami membelikan garri," ujarnya, merujuk pada makanan ringan berbahan dasar singkong. Dulu, keluarga mereka makan dari hasil ladang sendiri, tetapi sekarang makanan hanya cukup untuk sekali sehari. "Kemarin saya tidur dengan perut kosong, karena tidak ada makanan." Suaminya menganggur, dan tidak ada bantuan yang datang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jamila Shehu (37), yang berasal dari desa yang sama, mengungkapkan bahwa para bandit mencuri seluruh harta bendanya. Keluarganya sejauh ini bertahan hidup berkat anak-anaknya yang mengemis. "Kalau mereka membawa sesuatu, kami makan. Kalau tidak, kami hanya bisa menahan lapar," ungkapnya dengan nada putus asa.

Data Mengkhawatirkan: 318 Juta Orang Alami Kelaparan Akut

Menurut laporan Global Outlook 2026 dari Program Pangan Dunia (WFP), diperkirakan 318 juta orang di seluruh dunia mengalami kelaparan akut, dengan sebagian besar berada di benua Afrika. Badan PBB tersebut menyebutkan bahwa saat ini Gaza dan sebagian wilayah Sudan merupakan daerah yang paling terdampak. Ini menjadi pertama kalinya dalam abad ini dua krisis kelaparan akut terjadi secara bersamaan di dua negara berbeda.

Media Dinilai Mengabaikan Isu Kelaparan

Banyak krisis kelaparan luput dari perhatian akibat minimnya peliputan, kata peneliti Ladislaus Ludescher dari Universitas Goethe di Frankfurt. Ia menyebut kelaparan global sebagai "masalah terbesar di dunia yang sebenarnya bisa diselesaikan," tapi mengkritik pengabaian serius terhadap isu ini di kalangan media dan politik.

"Lebih banyak orang meninggal karena kelaparan dibandingkan akibat tuberkulosis, HIV/AIDS, dan malaria jika digabungkan," ujarnya. "Setiap 13 detik, seorang anak di bawah lima tahun meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan kelaparan. Ini adalah masalah besar yang bisa diatasi jika sumber daya yang memadai disediakan."

Kesimpulan itu ia sampaikan setelah meneliti 39 media Jerman — termasuk 8.000 laporan berita, sekitar 500 episode talk show politik, dan lebih dari 1.000 edisi media cetak dengan total sekitar 37.000 halaman. Hasilnya: mengakhiri kelaparan dunia pada dasarnya adalah soal kemauan politik. Namun media, menurutnya, sebagian besar mengabaikan isu tersebut.

Liputan Olahraga Lebih Banyak daripada Isu Negara Berkembang

Menurut Ludescher, sekitar 85% populasi dunia tinggal di negara berkembang, tetapi hanya 10% laporan dalam program berita utama yang membahas mereka. Di media cetak, angkanya bahkan turun menjadi 5%. Sebagai contoh, pada paruh pertama 2022, program berita utama Jerman, Tagesschau, menayangkan lebih banyak liputan olahraga dibandingkan seluruh isu-isu di negara berkembang jika digabungkan.

Penelitiannya juga menunjukkan bahwa insiden aktor Will Smith menampar komedian Chris Rock di ajang Oscar 2022 mendapat lebih dari dua kali lipat liputan dibandingkan perang saudara di Tigray, utara Etiopia. "Dalam perang itu, lebih dari 120.000 perempuan diperkosa, dan sekitar 600.000 warga sipil tewas. Itu adalah perang paling berdarah di abad ke-21. Namun, sebagian besar orang di Eropa mungkin belum pernah mendengar sepatah kata pun tentangnya," ujar Ludescher.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Status Darurat di Malawi: Krisis yang Terus Berulang

Malawi di Afrika bagian selatan secara berkala muncul dalam laporan krisis. "Malawi tengah menghadapi salah satu krisis kelaparan terberat dalam beberapa tahun terakhir akibat kekeringan panjang, curah hujan yang tak menentu, dan tekanan ekonomi," papar Pamela Kuwali, direktur negara untuk LSM CARE. "Jutaan keluarga tidak memiliki cukup makanan. Antara sekarang hingga Maret, sekitar empat juta orang berjuang melawan kelaparan serius."

Pemerintah Malawi telah berulang kali menetapkan status darurat dalam satu dekade terakhir. Namun, menurut Kuwali, isu ini jarang dibicarakan — dan tidak cukup lantang. "Ketika media tidak meliput sebuah krisis, krisis itu menjadi tak terlihat. Dan ketika menjadi tak terlihat, semakin sulit menggalang dana, semakin sulit memobilisasi dukungan, dan semakin sulit menarik perhatian politik yang dibutuhkan untuk solusi nyata," ungkapnya. "Tanpa cerita, tanpa gambar, tanpa tajuk utama, dunia tidak akan merasakan urgensinya."

Dunia Lebih Banyak Belanja Senjata daripada Pangan

Ludescher memperkirakan tambahan dana sekitar 10 hingga 50 miliar dolar AS per tahun sebenarnya sudah cukup untuk menanggulangi krisis kelaparan. Namun, angka itu tampak kecil dibandingkan belanja militer global. Pada 2024, dunia menghabiskan sekitar 2,7 triliun dolar AS untuk peralatan militer, menurut lembaga pemikir Swedia SIPRI — meningkat 9,4% dibandingkan 2023. Amerika Serikat dan Jerman bahkan telah mengumumkan peningkatan anggaran militer mereka.

Negara-negara kaya, pungkas Ludescher, kini cenderung lebih berfokus ke dalam negeri. "Barat banyak berbicara tentang kemanusiaan dan hak asasi manusia. Dengan membentuk dana kelaparan — misalnya sekitar 100 miliar euro — kita justru akan membangun kredibilitas yang lebih kuat."

Media seharusnya dapat mempertajam kesadaran dunia tentang kelaparan global, mendorong para pengambil keputusan untuk memberi perhatian dan terlibat dalam penyelesaiannya, kata Ludescher. "Dengan sedikit pengecualian, tanggung jawab kemanusiaan dan jurnalistik ini belum dijalankan." Penentuan agenda berita memainkan peran besar dalam membentuk perdebatan publik, tambahnya. "Politik dan media memiliki hubungan timbal balik. Media melaporkan apa yang dilakukan politisi dan persoalan yang mereka hadapi. Di sisi lain, politisi juga mengamati isu apa yang mendapat sorotan besar di media, lalu ikut menumpanginya."