Gus Ipul Gelar Tahlilan untuk Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Sebut Mereka Syuhada
Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar doa bersama dan tahlil untuk tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Kegiatan ini diikuti oleh pegawai Kemensos di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, pada Senin (6/4/2026).
Prajurit yang Gugur dan Prosesi Doa
Tiga prajurit yang gugur tersebut adalah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon. Pembacaan tahlil dan doa dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyebut para prajurit tersebut sebagai pahlawan bangsa sekaligus syuhada atau orang yang meninggal dalam kondisi syahid. "Kita memberikan doa, itu adalah pahlawan-pahlawan bangsa Indonesia, kita harapkan menjadi syuhada, jadi golongan orang-orang yang syahid, orang-orang yang syahid, tidak pakai hisab, langsung masuk surganya Allah SWT," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Doa Lintas Iman dan Nilai Pancasila dalam Tahlil
Sebelum tahlil, acara diawali dengan doa lintas iman oleh siswa-siswi Sekolah Rakyat dari wilayah Jabodetabek. Doa dibacakan secara bergiliran oleh Saepul Majid (Islam), Marcel Apriliano Ferdinand (Katolik), Fransiskus Manuel Manalu (Kristen), Lovelyne P. A. Luntungan (Buddha), serta Gusti Agung Radja Putra Arya Wiratama (Hindu) yang menyampaikan harapan agar kebajikan para prajurit menjadi penerang dan membawa kedamaian batin.
Gus Ipul menjelaskan, tahlil yang dibacakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendoakan prajurit yang gugur, tetapi juga orang tua dan keluarga yang telah mendahului. Ia juga menyebut bahwa tahlil mengandung nilai-nilai Pancasila. "Bagi yang seusia saya mungkin pernah dengar Yasin Yusuf. Dia menceritakan tahlil itu, dia bilang begini tahlil itu sesungguhnya melaksanakan Pancasila," tuturnya.
Ia mencontohkan, bacaan Surat Al-Ikhlas ayat pertama yang berbunyi 'Qul huwallahu ahad' dengan arti 'Dialah Allah, Yang Maha Esa' mencerminkan sila pertama Pancasila, yakni 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. "Itu adalah Ketuhanan yang Maha Esa, dan tahlil dalam prakteknya itu pesertanya tidak hanya orang islam, tapi siapapun boleh ikut, kalau di kampung-kampung, di daerah-daerah itu ketika tahlil dilakukan tidak pakai seleksi, selama mau hidup bersama-sama, selama itu bisa mengikuti tahlil," katanya.
Menurutnya, tahlil juga mencerminkan sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, serta sila ketiga 'Persatuan Indonesia' karena menyatukan berbagai elemen masyarakat. Selain itu, tahlil dinilai mencerminkan sila keempat melalui musyawarah dalam menentukan pemimpin tahlil, serta sila kelima tentang keadilan sosial. "Yang duduk di situ dapet semua, adil dapet berkat semua, itu adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.
Kehadiran Pejabat Kemensos
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Agus Zainal Arifin, serta pejabat tinggi madya Kemensos lainnya.



