Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, memberikan hadiah umrah kepada Yarmayati, seorang penarik becak sampah di Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Yarmayati, yang akrab disapa Buk Ema, selama bertahun-tahun hanya bisa berdiri di tepi jalan sambil melambaikan tangan setiap kali bus jemaah haji melintas menuju atau dari Asrama Haji Tabing.
Bantuan untuk Buk Ema
Video aksi tulus Buk Ema viral di media sosial dan menarik perhatian Andre Rosiade. Ia langsung mengunjungi rumah Buk Ema untuk memberikan hadiah umrah. "Alhamdulillah, hari ini kami mewujudkan mimpi Buk Ema untuk berangkat umrah. Banyak masyarakat yang tersentuh melihat video beliau dan meminta kami membantu. Beliau adalah sosok ibu yang luar biasa tangguh," ujar Andre dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Andre juga menyerahkan satu unit becak kayuh baru untuk menggantikan becak lama Buk Ema yang sudah usang. Selain itu, bantuan paket sembako, modal tunai sebesar Rp1 juta, dan jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan dengan iuran ditanggung selama satu tahun juga diberikan. "Beliau tidak perlu lagi hanya menonton dan mendoakan orang lain dari pinggir jalan; sekarang giliran beliau yang akan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Kami berikan becak baru agar beliau lebih mudah mencari rezeki, serta jaminan kesehatan agar beliau tenang," tambah Andre.
Tanggapan Warga
Ketua RT Razali mengaku senang mendengar warganya dibantu Andre. Ia menilai Buk Ema sangat layak mendapatkan bantuan tersebut. "Kalau Buk Ema becak dikenal ulet, hujan-hujan pun tetap keluar mengayuh becak ke rumah warga. Terima kasih Pak Andre," katanya.
Tangis Haru Sang Penarik Becak Sampah
Suasana haru terlihat saat bantuan diserahkan kepada Buk Ema di kediamannya. Ia tak kuasa menahan air mata karena impiannya untuk pergi ke Tanah Suci akhirnya mendapat jalan. "Setiap ada mobil haji lewat, saya selalu melambai dan berdoa agar mereka selamat. Dalam hati, saya juga berbisik, 'Ya Allah, kapan giliran saya bisa ke Mekkah?'. Ternyata Allah menjawabnya hari ini," tutur Buk Ema.
Ketangguhan Buk Ema terbentuk dari perjalanan hidup yang panjang. Sejak kecil ia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan diasuh oleh kakak ayahnya. Demi menyambung hidup, Buk Ema pernah bekerja di pabrik Asia Biskuit Tabing. Memasuki hari tua, ia memilih profesi sebagai pengangkut sampah warga dengan upah sekitar Rp300 ribu per bulan. Awal tahun ini sempat menjadi masa sulit saat petugas LPS mulai mengangkut sampah di wilayah tersebut, namun warga tetap memilih jasa Buk Ema.
Kini, Buk Ema bersiap menjalani perjalanan yang selama ini ia impikan. Tak lama lagi, tangan yang biasa memegang kemudi becak itu akan bersimpuh di depan Ka'bah, mengucap syukur atas keajaiban yang menghampiri di usia senjanya.



