Alumni LPDP Dwi Sasetyaningsih Minta Maaf atas Ucapan Kontroversial Soal Kewarganegaraan
Nama Dwi Sasetyaningsih mendadak viral di media sosial setelah mengunggah video yang menyatakan anak keduanya telah resmi menjadi warga negara Inggris. Dalam unggahan tersebut, ia tampak bersemangat menyampaikan, "Udah resmi jadi British Citizen. Tapi cukup saya aja yang WNI, anak-anakku jangan." Pernyataan ini langsung memicu berbagai reaksi dari publik, banyak yang mengkritiknya karena dianggap merendahkan status sebagai Warga Negara Indonesia.
Profil dan Latar Belakang sebagai Penerima Beasiswa
Belakangan diketahui, Dwi Sasetyaningsih adalah alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang mengelola Dana Abadi Pendidikan untuk mendanai beasiswa S2 dan S3 warga Indonesia di perguruan tinggi terbaik dalam dan luar negeri. Beasiswa ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk pembangunan negara.
Pembelaan Awal dan Klarifikasi Status Kewarganegaraan
Setelah mendapat sorotan, Dwi Sasetyaningsih melakukan pembelaan melalui akun media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah lulus kuliah di Belanda sejak 2017 dan kembali menetap di Indonesia selama enam tahun untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa serta berkontribusi untuk negeri. Ia menegaskan bahwa kepindahannya ke Inggris bukan untuk studi, melainkan untuk menunaikan kewajiban sebagai istri.
Dalam klarifikasinya, ia menyatakan bahwa keluarganya masih berstatus WNI, dan anak keduanya memiliki hak dwi-kewarganegaraan karena lahir di Inggris, sehingga memegang dua paspor yang sah secara hukum. "Saya masih bayar pajak di Indonesia sama seperti kalian," tambahnya. Ia juga berargumen bahwa sebagai penerima beasiswa dengan uang rakyat, ia berhak mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat sebagai bentuk kontribusi.
Permintaan Maaf Resmi dan Pengakuan Kesalahan
Derasnya kritik dan sorotan publik akhirnya mendorong Dwi Sasetyaningsih untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Instagramnya. Ia mengakui bahwa ucapannya lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi terhadap berbagai kondisi di Indonesia. Namun, ia menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terutama yang berkaitan dengan identitas kebangsaan.
"Saya menyadari bahwa kalimat yang disampaikan bisa dimaknai sebagai bentuk merendahkan bangsa Indonesia. Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik," ujarnya. Ia menegaskan bahwa dampak dari pernyataannya menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya, dan memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Dalam pernyataan maafnya, Dwi Sasetyaningsih menyatakan menghargai berbagai kritik dan masukan yang diterimanya, dan menjadikannya sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri. Ia menegaskan kecintaannya pada Indonesia dengan segala harapan dan tantangannya, serta komitmen untuk terus berkontribusi di masa depan. Di akhir pesan, ia berharap di bulan suci Ramadan ini, masyarakat dapat saling menata hati dan fokus menjalankan ibadah.
Kasus ini menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam berkomunikasi di ruang publik, terutama bagi figur yang terkait dengan institusi pendidikan dan beasiswa negara. Respons publik yang cepat menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap isu kewarganegaraan dan kebanggaan nasional.



