Kesenjangan Performa 5G di Indonesia Masih Terlihat Jelas
Laporan terbaru dari lembaga independen OpenSignal pada edisi Desember 2025 mengungkapkan bahwa masih terdapat kesenjangan performa layanan 5G yang signifikan antaroperator seluler di Indonesia. Dalam laporan bertajuk Mobile Network Experience tersebut, Telkomsel tercatat unggul di berbagai indikator utama, termasuk kecepatan unduh dan unggah 5G, pengalaman video, serta konsistensi kualitas jaringan.
Spektrum Frekuensi Jadi Faktor Penentu Utama
Ian Yosef Matheus Edward, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa spektrum frekuensi merupakan faktor paling krusial dalam menentukan kualitas layanan 5G. "Dalam teknologi seluler, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama. Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun kontinu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan dan stabilitas 5G," ujarnya melalui pernyataan tertulis.
Menurut Ian, untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal, idealnya operator memiliki alokasi spektrum sekitar 100 MHz. Namun, spektrum 50 MHz yang kontinu di pita TDD sudah cukup untuk memberikan performa yang baik. Saat ini, sebagian operator masih menggunakan spektrum yang juga dipakai untuk layanan 4G, sehingga implementasi 5G berjalan secara berdampingan dengan jaringan generasi sebelumnya.
Infrastruktur Backbone dan Kesiapan Jaringan
Selain spektrum, faktor lain yang berperan besar adalah kesiapan infrastruktur backbone. Infrastruktur yang kuat dan terintegrasi memungkinkan jaringan 5G memberikan pengalaman yang lebih stabil dan konsisten bagi pengguna. Pada kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G, Telkomsel juga menempati posisi teratas, menunjukkan bahwa pengalaman pengguna sangat dipengaruhi oleh kesiapan spektrum dan integrasi jaringan secara menyeluruh.
Temuan OpenSignal ini memperlihatkan bahwa performa 5G di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas jaringan digelar, tetapi juga oleh fondasi teknis yang dimiliki operator, terutama spektrum frekuensi dan kekuatan infrastruktur jaringan.
Penetrasi 5G Indonesia Masih Rendah
Meski performa sejumlah operator sudah menunjukkan kemajuan, penetrasi 5G di Indonesia masih relatif rendah. Saat ini, penetrasi 5G nasional diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia yang sudah menembus 50%.
Ian menilai kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
- Keterbatasan spektrum khusus 5G
- Harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau
- Model bisnis dan pemanfaatan 5G yang masih berkembang
Kebijakan Spektrum Jadi Penentu Masa Depan
Ian menekankan bahwa kebijakan pengelolaan spektrum akan menjadi faktor penentu dalam mempercepat peningkatan kualitas dan pemerataan layanan 5G di Indonesia. "Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat," tuturnya.
Laporan OpenSignal ini mempertegas bahwa masa depan 5G di Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspansi jaringan, tetapi juga pada strategi spektrum, investasi infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekosistem digital secara berkelanjutan. Kondisi ini berdampak pada optimalisasi performa yang belum maksimal, membuat pengalaman pengguna sulit mencapai potensi terbaiknya tanpa spektrum ideal yang mendukung.