Gelombang panas ekstrem yang semakin sering melanda Jerman akibat perubahan iklim tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga ancaman serius bagi perekonomian negara tersebut. Suhu hingga 40 derajat Celsius kini semakin umum terjadi, dengan durasi yang semakin panjang. Namun, penggunaan pendingin udara masih sangat terbatas; hanya sekitar 6% rumah tangga Jerman yang memiliki AC, jauh di bawah Amerika Serikat atau banyak negara Asia yang menjadikan AC sebagai perlengkapan standar.
Dampak Panas terhadap Produktivitas dan Biaya
Menurut studi yang dilakukan oleh Allianz, panas ekstrem menyebabkan kerugian besar karena penurunan produktivitas dan peningkatan biaya energi. Ekonom Katharina Utermöhl dari Allianz menjelaskan, "Di negara-negara utara, bangunan biasanya dirancang untuk menyimpan panas karena musim dinginnya sangat dingin." Tubuh manusia tidak dirancang untuk bekerja nyaman pada suhu di atas 30 derajat Celsius. Konsentrasi menurun, tubuh berkeringat, dan sistem peredaran darah bekerja lebih keras.
Data menunjukkan bahwa di atas 30°C, produktivitas turun sekitar 3% setiap kenaikan 1 derajat, sementara biaya energi naik sekitar 1,2% per derajat. Orang bekerja lebih lambat, lebih sering membuat kesalahan, dan mesin bisa mengalami panas berlebih. Jika AC digunakan, konsumsi listrik meningkat drastis.
Kerugian Ekonomi Mencapai Rp2.353 Triliun
Menurut studi Allianz, kerugian ekonomi Jerman pada periode 2026 hingga 2030 bisa mencapai sekitar 131 miliar dolar AS (sekitar Rp2.353 triliun). Produk domestik bruto (PDB) berpotensi turun hingga 3%. Penurunan keuntungan ini dapat membuat perusahaan menahan investasi, yang pada akhirnya melemahkan produktivitas dan daya saing di masa depan.
Pekerja luar ruangan seperti konstruksi, pertanian, dan kurir merasakan dampak paling berat. Kementerian Ketenagakerjaan Jerman mencatat bahwa jumlah pekerja yang sakit meningkat sekitar 3,5% saat suhu di atas 30°C, dan bisa naik hingga 6% jika gelombang panas berlangsung lama. Hal ini ikut menurunkan produktivitas kerja secara keseluruhan.
Juni Terpanas dalam Sejarah
Gelombang panas saat ini menjadi yang terpanjang yang pernah tercatat di bulan Juni sejak pencatatan cuaca dimulai. "Eropa memanas lebih cepat dibanding benua lain, dan dampaknya sudah memakan korban jiwa," kata Hans Henri Kluge dari WHO di Berlin. Dalam empat tahun terakhir, lebih dari 200.000 orang di Eropa meninggal akibat cuaca panas.
Meski demikian, Jerman masih berada di tingkat menengah dalam hal dampak ekonomi akibat perubahan iklim. Negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol sudah terdampak lebih parah. Sementara itu, negara-negara Eropa Utara justru masih mendapat keuntungan karena musim dingin yang lebih ringan mengurangi kebutuhan pemanas.
Aturan Keselamatan di Tempat Kerja
Jerman memiliki aturan tentang batas suhu di tempat kerja: pada suhu ruang 26°C, perusahaan harus mulai mempertimbangkan langkah pengurangan panas; pada 30°C, langkah perlindungan menjadi wajib, seperti menyediakan minuman atau menyesuaikan jam kerja; di atas 35°C, tempat kerja umumnya dianggap tidak layak. Namun, Partai Kiri menilai aturan ini belum cukup. Mereka meminta perlindungan yang lebih ketat, termasuk penyediaan minuman, pelindung matahari, kipas, waktu istirahat tambahan, serta bantuan khusus bagi pekerja luar ruangan berupa "tunjangan kerja pendek karena iklim".
Perlindungan Panas sebagai Prioritas Jangka Panjang
Utermöhl menekankan pentingnya berpikir jangka panjang. "Jerman harus berhenti menganggap panas sebagai masalah musiman, ini adalah tugas permanen kebijakan ekonomi," ujarnya. Penanganan panas harus menjadi bagian dari perencanaan perusahaan, mulai dari rantai pasokan, manajemen karyawan, hingga keputusan properti. Pemerintah juga harus berperan lebih aktif, misalnya dengan memberikan insentif pajak untuk bangunan tahan panas, mendorong penggunaan fasad berwarna terang, menambah peneduh dan penghijauan, serta mendesain ulang perencanaan kota secara keseluruhan.
Panas juga berdampak pada infrastruktur. "Pada suhu 38°C, sebagian infrastruktur kita tidak lagi berfungsi dengan baik," kata Utermöhl. Karena itu, pemerintah harus lebih banyak berinvestasi agar infrastruktur siap menghadapi panas ekstrem. Tantangan ini menjadi semakin besar bagi Jerman, yang kondisi keuangannya sudah cukup terbebani.



