Mark Zuckerberg Hadir di Pengadilan Los Angeles untuk Membantah Tuduhan Kecanduan Media Sosial
CEO Meta, Mark Zuckerberg, memberikan kesaksian di pengadilan Los Angeles pada Rabu (18/02) dalam sidang yang menyoroti dampak berbahaya media sosial terhadap anak-anak. Sidang ini dipicu oleh gugatan dari seorang perempuan asal California yang mengklaim bahwa penggunaan Instagram milik Meta dan YouTube milik Google sejak kecil memicu depresi serta pikiran bunuh diri.
Gugatan Menuduh Platform Sengaja Membuat Anak-anak Ketagihan
Penggugat mulai menggunakan YouTube pada usia enam tahun, Instagram pada usia 11 tahun, lalu TikTok dan Snapchat. Dua platform terakhir telah mencapai kesepakatan ganti rugi dengan penggugat. Gugatan tersebut menuduh perusahaan-perusahaan itu sengaja membuat anak-anak ketagihan menggunakan layanan mereka, meskipun mengetahui dampak buruknya terhadap kesehatan mental.
Permasalahan utama yang diangkat adalah apakah aplikasi media sosial memang bersifat adiktif bagi anak-anak. Meta dan Google membantah tuduhan tersebut. Meta merujuk pada penelitian dari National Academies of Sciences yang tidak menemukan bukti bahwa media sosial mempengaruhi kesehatan mental anak-anak.
Zuckerberg Sesalkan Lambatnya Deteksi Pengguna di Bawah 13 Tahun
Dalam kesaksiannya, Zuckerberg mengatakan ia menyesalkan lambatnya perusahaan mendeteksi pengguna Instagram yang berusia di bawah 13 tahun. Ia menambahkan bahwa sejumlah perbaikan telah dilakukan. "Saya selalu berharap kami bisa melakukannya lebih cepat," ujarnya.
Pekan lalu, CEO Instagram Adam Mosseri juga memberikan kesaksian dan secara tegas menolak anggapan bahwa media sosial menyebabkan kecanduan. "Saya yakin pernah mengatakan bahwa saya kecanduan serial Netflix ketika menontonnya secara maraton hingga larut malam, tetapi menurut saya itu tidak sama dengan kecanduan klinis," kata Mosseri.
Email Internal Ditampilkan di Pengadilan sebagai Bukti
Kasus di Los Angeles merupakan salah satu dari sejumlah persidangan terhadap perusahaan media sosial di Amerika Serikat. Putusan perkara ini berpotensi menjadi acuan dalam penyelesaian ribuan gugatan lain yang menuding media sosial memperparah kasus depresi, kecemasan, gangguan makan, dan bunuh diri di kalangan anak muda.
Fokusnya adalah desain aplikasi, algoritma, serta fitur personalisasi platform. Pengacara penggugat menunjukkan memo internal Instagram dari tahun 2018 yang menyatakan, "Kalau kita ingin banyak remaja menggunakan Instagram, kita harus mulai menarik mereka sejak masih pra-remaja."
Zuckerberg mengatakan presentasi dokumen tersebut di pengadilan "salah mengartikan apa yang saya katakan," dan menambahkan bahwa telah dilakukan berbagai diskusi dari waktu ke waktu untuk mencoba membangun berbagai versi layanan yang dapat digunakan anak-anak dengan aman. Meta telah membahas pembuatan versi Instagram untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun, tapi berujung tidak pernah membuat layanan tersebut.
Jaksa penuntut pun menampilkan pertukaran email internal yang menunjukkan Mosseri membela keputusan Zuckerberg pada tahun 2020 untuk tetap mengizinkan penggunaan filter kosmetik di Instagram. Sejumlah eksekutif lain menolak keputusan tersebut dan memperingatkan dampak buruk filter itu terhadap remaja perempuan. Di sisi lain, pihak yang menginginkan filter tersebut tetap ada ingin menghindari kehilangan pangsa pasar di tengah meningkatnya persaingan dengan TikTok.
Juri juga diperlihatkan email dari tahun 2014 dan 2015 yang menunjukkan Zuckerberg secara eksplisit menargetkan peningkatan waktu penggunaan aplikasi oleh pengguna hingga dua digit persentase.
Semakin Banyak Negara Melarang Media Sosial bagi Anak di Bawah Umur
Gugatan ini menjadi bagian dari gelombang penolakan global terhadap platform media sosial, seiring dengan beberapa negara yang mengesahkan undang-undang pembatasan penggunaan media sosial demi melindungi kesehatan mental anak-anak.
- Larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun di Australia telah berlaku.
- Di Prancis, rancangan undang-undang yang melarang penggunaan media sosial bagi pengguna di bawah 15 tahun juga sedang dibahas di parlemen.
- Sementara itu, Dewan Menteri Spanyol diperkirakan akan menyetujui aturan serupa bagi pengguna di bawah 16 tahun sebelum diajukan ke parlemen.
- Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Rabu (18/02) juga menyatakan secara terbuka untuk mempertimbangkan kebijakan larangan serupa.
- Norwegia, Yunani, Inggris, Denmark, Italia, dan Belanda termasuk sejumlah negara Eropa yang tengah membahas berbagai bentuk pembatasan.
Jika Meta kalah dalam perkara ini, perusahaan harus membayar kompensasi kepada penggugat. Putusan tersebut juga berpotensi mempengaruhi kredibilitas perusahaan media sosial. Terlebih lagi, semakin banyaknya pemerintah di dunia yang melarang penggunaan aplikasi tersebut bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Jika Anda mengalami tekanan emosional berat atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, jangan ragu mencari bantuan profesional. Informasi mengenai layanan bantuan di berbagai negara dapat ditemukan di situs terkait.