KOMPAS.com - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap dunia kerja. Meskipun sejumlah pekerjaan teknis mulai terdampak otomatisasi, kebutuhan akan keterampilan yang berpusat pada manusia atau human-centric skills justru semakin meningkat. Kemampuan ini dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Laporan Future of Jobs 2025
World Economic Forum merilis Future of Jobs Report 2025 pada Selasa (7/1/2025). Laporan tersebut menyebutkan bahwa keterampilan manusia seperti analytical thinking, kepemimpinan, kolaborasi, dan creative thinking akan menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan hingga tahun 2030. Selain itu, laporan juga memprediksi sekitar 39 persen keterampilan kerja akan mengalami perubahan akibat disrupsi teknologi.
Riset Deloitte dan BINUS University
Temuan serupa diungkapkan dalam riset Deloitte Human Capital Trends. Sebanyak 89 persen eksekutif menilai kemampuan manusia seperti empati, komunikasi, dan kepemimpinan akan semakin penting di era AI dan otomatisasi. Menanggapi hal ini, Dean of Faculty of Humanities BINUS University Dr Elisa Carolina Marion, SS, MSi menegaskan bahwa teknologi tidak akan bisa mengambil alih peran manusia sepenuhnya, terutama dalam aspek emosional dan kognitif yang kompleks.
“Di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia seperti komunikasi, empathy, critical thinking, dan cross-cultural understanding justru menjadi semakin relevan karena tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Salah satu contohnya adalah AI tidak hanya membutuhkan orang yang paham teknologi, tetapi juga orang yang bisa berkomunikasi dengan jelas,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
“Kita perlu tahu bagaimana menyusun pertanyaan, memberi konteks, menjelaskan tujuan, dan mengarahkan AI agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan kita. Di sinilah ilmu bahasa dan humaniora menjadi sangat relevan,” imbuh Elisa.
Human-Centric Skills Incaran Perusahaan Global
Menurut Elisa, kemampuan memahami manusia, komunikasi, budaya, dan perspektif global akan tetap menjadi pilar utama yang dibutuhkan oleh industri internasional. Perubahan lanskap dunia kerja membuat perusahaan multinasional menggeser prioritas dalam proses rekrutmen. Berdasarkan data LinkedIn Global Talent Trends yang dipublikasikan pada Oktober 2024, kemampuan komunikasi dan interpersonal kini menjadi kompetensi yang paling banyak dicari oleh perusahaan di tingkat global.
Perusahaan multinasional semakin memprioritaskan kandidat yang mampu berkomunikasi secara efektif, beradaptasi dengan perbedaan budaya, dan memiliki pemahaman lintas budaya yang kuat. Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Humaniora BINUS University yang menunjukkan bahwa kemampuan bekerja di lingkungan multikultural dan memahami perbedaan budaya menjadi faktor penting dalam mendukung kesuksesan perusahaan multinasional. Kebutuhan perusahaan terhadap talenta yang memiliki kemampuan komunikasi internasional, adaptasi budaya, dan kolaborasi global juga diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan tenaga kerja global.



