JAKARTA – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif kerap dianggap sebagai ancaman bagi para pekerja kreatif, termasuk penulis cerita. Namun, penulis dan story editor veteran Andrew Guerdat memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, AI justru memiliki keterbatasan mendasar yang membuatnya sulit menggantikan peran penulis sejati.
“Saya pikir AI selalu kembali ke ‘rata-rata,’” ujar Andrew saat ditemui di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).
AI dan Kreativitas Manusia
Andrew menjelaskan bahwa AI dilatih berdasarkan data yang ada, sehingga cenderung menghasilkan output yang umum dan tidak inovatif. Sebaliknya, penulis manusia mampu menciptakan cerita yang unik, emosional, dan di luar kebiasaan. “Penulis sejati bisa mengambil risiko dan menghasilkan karya yang tidak terduga,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa AI tidak memiliki pengalaman hidup, empati, atau intuisi yang diperlukan untuk menulis cerita yang bermakna. “Mesin tidak bisa merasakan patah hati, kegembiraan, atau konflik batin. Itu semua adalah bahan baku cerita yang bagus,” kata Andrew.
Dampak bagi Industri Kreatif
Meski demikian, Andrew mengakui bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang berguna bagi penulis, misalnya untuk mengatasi writer's block atau menghasilkan ide awal. Namun, ia tetap optimis bahwa peran penulis manusia tidak akan tergantikan sepenuhnya. “AI adalah alat, bukan pengganti. Kreativitas sejati tetap ada di tangan manusia,” tegasnya.
Pandangan ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran banyak pekerja kreatif akan masa depan mereka. Andrew mendorong para penulis untuk terus mengasah keterampilan dan tidak takut berinovasi. “Jangan khawatir dengan AI. Fokuslah pada apa yang membuat Anda unik sebagai manusia,” pungkasnya.



