Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan tuduhan terhadap Korea Utara (Korut) terkait kejahatan siber yang disebut telah menghasilkan pendapatan ilegal dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Pyongyang dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah yang tidak masuk akal.
Tuduhan AS terhadap Korut
Dilansir dari AFP pada Minggu (3/5/2026), AS menuduh Korut telah meningkatkan program perang siber yang bertanggung jawab atas pencurian miliaran dolar aset virtual dalam beberapa tahun terakhir. Menurut AS, peretasan telah menjadi sumber utama mata uang asing bagi Korut di tengah sanksi berat yang dijatuhkan atas program nuklir dan senjatanya.
Bantahan Keras dari Pyongyang
Korut langsung membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri yang tidak disebutkan namanya menegaskan bahwa pemerintah AS telah berusaha menyebarkan pemahaman yang salah tentang Korea Utara dengan berbicara tentang ancaman siber yang tidak ada. Menurutnya, tuduhan itu merupakan fitnah yang tidak masuk akal.
“Ini tidak lain adalah fitnah yang tidak masuk akal untuk menodai citra negara kami dengan menyebarkan informasi palsu untuk tujuan politik,” ujar juru bicara tersebut.
Kasus Hukum di AS
Sebelumnya pada April lalu, Departemen Kehakiman AS menjatuhkan hukuman kepada dua warga Amerika karena membantu warga Korea Utara mendapatkan pekerjaan IT jarak jauh di perusahaan AS. Mereka juga dinyatakan bersalah mengumpulkan jutaan dolar pendapatan ilegal untuk program senjata Korut.
Departemen Kehakiman menyebutkan bahwa lebih dari 100 perusahaan AS menjadi sasaran dalam skema multi-tahun tersebut, termasuk sejumlah perusahaan Fortune 500 dan kontraktor pertahanan.
“Tipu daya tersebut menempatkan pekerja IT Korea Utara dalam daftar gaji perusahaan AS yang tidak menyadari dan dalam sistem komputer AS, sehingga berpotensi membahayakan keamanan nasional kita,” kata John Eisenberg, asisten jaksa agung untuk keamanan nasional.
Serangan Siber dan Kerugian Besar
Analis Google dan pakar keamanan siber lainnya mengatakan bahwa peretas yang terkait dengan Korea Utara pada April lalu diduga melakukan serangan ambisius terhadap paket perangkat lunak yang tidak mencolok tetapi banyak digunakan.
Sebuah panel Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan pada tahun 2024 bahwa serangan siber Korea Utara sejak 2017 telah mencuri lebih dari 3 miliar dolar AS dalam mata uang kripto. Uang curian tersebut diduga digunakan untuk mendanai pengembangan senjata pemusnah massal.
Program perang siber Pyongyang setidaknya dimulai sejak pertengahan tahun 1990-an, dan negara tersebut telah dijuluki sebagai pencuri siber paling produktif di dunia oleh sebuah perusahaan keamanan siber.



