Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Dalam pernyataan menjelang KTT NATO di Turki, Trump mengecam keras pemerintah Iran dengan menyebut mereka sebagai 'sampah' dan 'gila'. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin lagi berurusan dengan Iran dan menilai negosiasi lebih lanjut hanya membuang-buang waktu.
'Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka itu sampah ... mereka dipimpin oleh orang-orang yang sakit dan mereka adalah orang-orang yang kejam serta penuh kekerasan,' kata Trump. 'Kami membuat kesepakatan. Mereka [Iran] keluar, berbicara kepada pers, lalu mengatakan, 'kami bahkan tidak pernah membicarakannya'. Ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka gila. Bagi saya, ini sudah berakhir.'
Serangan Balasan Iran ke Fasilitas AS di Bahrain dan Kuwait
Gelombang serangan terbaru dipicu oleh insiden penyerangan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan pada Selasa (07/07) bahwa mereka telah menghancurkan lebih dari 80 target, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Serangan tersebut menghantam Bandar Abbas dan Sirik, serta menyebabkan beberapa orang terluka akibat serpihan ledakan, menurut media pemerintah Iran.
Sebagai balasan, pada Rabu (08/07), Iran menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan operasi gabungan rudal dan drone yang menyasar 85 instalasi militer utama AS di Pelabuhan Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. IRGC juga menyatakan telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengaktifkan sirene peringatan untuk masyarakat, namun belum ada informasi resmi mengenai kerusakan atau korban jiwa.
Harga Minyak Melonjak Akibat Eskalasi Konflik
Komentar Trump dan aksi saling serang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent lebih dari 3% menjadi US$76 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat kembali ke tingkat sebelum perang setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata bulan lalu. Namun, serangan terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pelaku pasar khawatir eskalasi konflik dapat mengganggu arus pengiriman energi melalui selat tersebut.
Reaksi Negara-Negara Teluk
Kuwait mengecam keras serangan Iran. Kementerian Luar Negeri Kuwait menyebut tindakan tersebut sebagai 'agresi Iran yang berulang dan keji' serta 'agresi yang terang-terangan' yang merusak upaya meredakan ketegangan. Kuwait menegaskan haknya untuk mengambil semua langkah yang diperlukan menjaga keamanan nasional. Qatar juga menyatakan Iran 'sepenuhnya bertanggung jawab' atas dugaan serangan terhadap kapal Al-Rekayyat di dekat selat tersebut. Arab Saudi melaporkan bahwa kapal tanker Saudi, Wadyan, juga menjadi sasaran saat melintasi selat.
Iran Tuduh AS Langgar Nota Kesepahaman
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh AS melakukan 'pelanggaran terang-terangan' terhadap nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni 2026. Menurut Araghchi, serangan AS, pemberlakuan kembali sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta konflik Israel-Hizbullah di Lebanon telah membuat bagian-bagian penting dari kesepahaman untuk mengakhiri perang menjadi tidak efektif. Ia menegaskan Iran 'tidak akan ragu' mempertahankan keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasionalnya. Araghchi juga memperingatkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS bahwa Iran akan 'menargetkan sumber dan titik asal' setiap serangan yang ditujukan terhadap negaranya.
Isi Nota Kesepahaman AS-Iran
MoU yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 bertujuan memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz, mendukung rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar, dan mengakhiri segala jenis sanksi AS terhadap Iran. Namun, kesepakatan itu tidak menyentuh isu program nuklir Iran. Dalam MoU, Iran berjanji berupaya semaksimal mungkin menjamin pelayaran aman bagi kapal komersial tanpa biaya setidaknya selama 60 hari. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, menuduh AS melanggar MoU dengan mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di Selat Hormuz.
Pentingnya Selat Hormuz
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, memiliki lebar sekitar 50 kilometer di pintu masuk dan 33 kilometer di titik tersempit. Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati selat ini, tidak hanya dari Iran tetapi juga dari Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Sebelum konflik, sekitar 3.000 kapal melintas setiap bulan. Jumlah itu menurun drastis setelah Iran mengancam akan menyerang kapal tanker. Sejak MoU ditandatangani, lalu lintas mulai pulih namun masih di bawah tingkat sebelum perang.



