Proses pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran akhirnya dimulai setelah tertunda berbulan-bulan akibat perang. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi turut hadir dalam prosesi pemakaman tersebut.
Dilansir dari AFP pada Jumat (3/7/2026), Sharif yang negaranya berperan sebagai penengah dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, didampingi oleh Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir. Kehadiran mereka menandai solidaritas regional di tengah ketegangan yang masih berlangsung.
Penundaan Akibat Perang
Ali Khamenei tewas pada akhir Februari 2026 di usia 86 tahun akibat serangan yang dilancarkan AS-Israel, yang kemudian memicu perang besar di Timur Tengah. Jenazahnya baru tiba di Grand Mosalla Teheran untuk upacara pemakaman setelah gencatan senjata yang rapuh disepakati antara Washington dan Teheran.
Rangkaian upacara pemakaman yang semula dijadwalkan pada awal Maret terpaksa ditunda karena konflik bersenjata. Baru setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai, otoritas Iran mengumumkan pelaksanaan upacara berkabung yang dihadiri oleh jutaan pelayat dari berbagai negara.
Upaya Memperkuat Persatuan Nasional
Menurut Ketua Panitia Ali Akbar Pourjamshidian, seorang perwira tinggi di Garda Revolusi Iran, rangkaian acara pemakaman ini dimaksudkan untuk 'memperkuat persatuan nasional'. Namun, efektivitas dari upaya tersebut masih dipertanyakan oleh banyak pengamat, mengingat situasi politik dalam negeri yang masih rapuh pasca-perang.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan pengamanan ketat, dan kehadiran tokoh-tokoh asing seperti Sharif dan Muttaqi menunjukkan pentingnya hubungan diplomatik Iran dengan negara tetangganya. Pakistan selama ini menjadi mediator dalam perundingan damai antara AS dan Iran, sementara Afghanistan berusaha menjaga netralitasnya di tengah konflik regional.
Dampak dan Reaksi Internasional
Pemakaman Khamenei menjadi momen penting bagi Iran untuk menunjukkan ketahanan politiknya. Namun, dengan gencatan senjata yang masih rapuh, banyak pihak meragukan stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut. Jutaan pelayat yang hadir menunjukkan loyalitas besar kepada pemimpin yang telah berkuasa selama beberapa dekade, tetapi juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penerusnya.



