Sahroni Minta Tindak Tegas Penyerangan saat Gerebek Narkoba di Kalteng
Sahroni Minta Tindak Tegas Penyerangan Gerebek Narkoba

Ahmad Sahroni Desak Polisi Bertindak Tegas

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mendesak polisi untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku penyerangan yang mengakibatkan tewasnya seorang anggota polisi dalam operasi penggerebekan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Menurut Sahroni, tindakan menyerang aparat tidak boleh dibiarkan karena dapat melemahkan penegakan hukum.

“Sikapi dengan tegas hal demikian enggak bisa dibiarkan. Kalau dibiarkan lemah penegakan hukum dan berbahaya,” kata Sahroni saat dihubungi pada Jumat (3/7). Ia juga meminta Polri tidak lengah dan mempersiapkan setiap tindakan di lapangan dengan matang.

Polisi Diminta Antisipasi Bentrokan dengan Warga

Sahroni meyakini Polri mampu menjalankan operasi pemberantasan narkoba dengan cara yang lebih baik sehingga tidak perlu berujung pada bentrokan dengan warga. “Polisi jangan lengah atas penggerebekan yang biasa dilakukan, jaga bener kondisi sesuai lapangan dan persiapkan dengan matang. Saya yakin Polri bisa lakukan dengan cara yang lebih bagus tanpa harus berperang berlawanan sama warga,” ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penyerangan terjadi pada Rabu (1/7) malam ketika Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti informasi masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso menjelaskan bahwa hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang merupakan residivis kasus narkotika.

Kronologi Penyerangan: 12 Personel Dikerahkan

Sebanyak 12 personel diterjunkan dalam operasi tersebut. Polisi lalu membagi menjadi dua kelompok: tim pertama melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim kedua bersiaga di lokasi lain sebagai unsur pendukung. “Saat proses penangkapan berlangsung, target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang,” kata Eko dalam keterangan tertulis pada Kamis (2/7).

Situasi semakin memanas karena massa aksi terus bertambah dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan. Anggota polisi kemudian berupaya menyelamatkan diri sambil meminta bantuan penebalan personel. Sejumlah anggota terpaksa berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan untuk menghindari amukan massa.

Korban Jiwa dan Personel Hilang

Eko mengungkapkan bahwa Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal dunia akibat luka senjata tajam. “Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam. Sementara Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana masih dalam pencarian oleh tim gabungan,” katanya. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap aparat dalam operasi narkoba di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga