Israel Klaim Tewaskan Komandan Hizbullah di Lebanon Selatan, Pendeta Kristen Juga Tewas
Israel Tewaskan Komandan Hizbullah, Pendeta Kristen Korban Serangan

Israel Umumkan Pembunuhan Komandan Unit Hizbullah di Lebanon

Pasukan Israel mengklaim telah membunuh seorang komandan senior kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran dalam operasi militer terbaru di wilayah selatan Lebanon. Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel, target yang dieliminasi adalah Abu Hussein Ragheb, yang menjabat sebagai Kepala Unit Nasr Hizbullah.

Operasi Militer di Sektor Timur Sungai Litani

Unit Nasr Hizbullah diketahui beroperasi di sektor timur daerah selatan Sungai Litani di Lebanon. Kelompok ini telah melancarkan serangan lintas batas terhadap Israel sejak terjadinya serangan besar-besaran oleh Hamas pada bulan Oktober 2023. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, menyatakan bahwa dirinya telah menerima pengarahan lengkap mengenai pemusnahan komandan tersebut dalam sebuah serangan yang dilaksanakan oleh militer Israel.

Serangan Israel tidak hanya terfokus pada target militer. Dilaporkan bahwa pasukan Israel juga melancarkan serangan ke Desa Qlayaa yang terletak di Lebanon selatan. Dalam insiden ini, seorang pendeta Kristen bernama Pierre al-Rai menjadi korban tewas setelah terkena tembakan dari tank Israel.

Tragedi Pendeta yang Bertekad Bertahan di Rumah

Berdasarkan laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), sebuah rumah di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dihantam dua kali berturut-turut oleh tembakan artileri dari tank Merkava milik Israel. Serangan pertama menyebabkan luka-luka pada pemilik rumah dan istrinya.

Ketika beberapa tetangga, termasuk Pendeta Pierre al-Rai, bersama dengan paramedis Palang Merah bergegas ke lokasi untuk memberikan bantuan, rumah tersebut kembali dihantam untuk kedua kalinya. Serangan lanjutan ini mengakibatkan Rai dan tiga orang lainnya terluka. Pendeta itu kemudian meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya, seperti dikonfirmasi oleh sumber medis setempat kepada AFP.

Motivasi di balik penargetan rumah yang terletak di pinggiran kota tersebut masih belum jelas dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Sebelum insiden mematikan ini, pada hari Jumat tanggal 6 Maret 2026, Pierre al-Rai aktif berpartisipasi dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh penduduk lokal di kota tetangga Marjayoun.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat menyatakan tekad bulat mereka untuk tetap tinggal di rumah masing-masing, meskipun telah menerima peringatan evakuasi dari tentara Israel. Peringatan itu ditujukan kepada semua penduduk yang berada di selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan dengan Israel.

"Ketika kami mempertahankan tanah kami, kami mempertahankannya dengan damai, dan kami hanya membawa senjata perdamaian, kebaikan, cinta dan doa," tegas Rai dalam pidatonya selama pertemuan. "Kami terpaksa tetap berada dalam bahaya karena ini adalah rumah kami dan kami tidak akan meninggalkannya," tambahnya dengan penuh keyakinan.

Konflik antara Israel dan Hizbullah di perbatasan Lebanon-Israel terus memanas, menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rentan.