Iran Tegaskan Serangan Bukan Agresi, Melainkan Hak Membela Diri
Iran Tegaskan Serangan Bukan Agresi, Melainkan Bela Diri

Iran Bantah Agresi, Klaim Tindakan Bela Diri

Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas menolak narasi Barat yang menyebut serangan terbaru Iran sebagai agresi tanpa provokasi. Dalam pernyataan resmi, Iran menegaskan bahwa serangan terhadap pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di Teluk Persia selatan merupakan pelaksanaan hak inheren untuk membela diri berdasarkan hukum internasional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa situasi saat ini bukanlah sekadar konfrontasi militer, melainkan kelanjutan dari agresi terang-terangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel pada 28 Februari. “Iran tidak 'menyerang'. Serangan Iran terhadap pangkalan dan aset militer AS yang ditempatkan di Teluk Persia selatan merupakan pelaksanaan hak inheren Iran untuk membela diri berdasarkan hukum internasional yang sah dan sesuai hukum,” kata Baghaei, dilansir Press TV, Senin (13/7/2026).

Penutupan Selat Hormuz dan Eskalasi Terbaru

Ketegangan semakin memanas pada hari Minggu (12/7) setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan meluncurkan rudal serta drone ke negara-negara tetangga di Teluk. Serangan ini merupakan balasan atas serangan baru AS yang dilakukan setelah Iran menyerang sebuah kapal dagang yang ditinggalkan dalam keadaan terbakar oleh awaknya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pemerintah Iran mengutuk gelombang serangan terbaru AS tersebut dan menyatakan bahwa serangan itu telah membuat sia-sia semua upaya diplomatik beberapa bulan terakhir. “Serangan barbar ini bukan hanya pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi juga ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” kata Kementerian Luar Negeri Iran.

Dampak pada Ekonomi Global dan Diplomasi

Ketegangan ini mengancam kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang Timur Tengah yang meletus pada akhir Februari lalu. Hambatan utama dalam mencapai kesepakatan akhir adalah masa depan Selat Hormuz, yang ditutup Iran untuk pelayaran komersial selama perang dengan AS dan Israel. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dan gas dari Teluk, dan penutupannya selama perang telah berdampak besar pada ekonomi dunia.

Pemerintah Iran berulang kali menekankan hak sahnya atas kedaulatan di selat tersebut. Iran menegaskan bahwa jalur air vital tersebut tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang. Iran bersikeras untuk mengendalikan jalur pelayaran itu dan berencana mengenakan biaya, sebuah sikap yang ditolak Washington.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB sebelumnya menyatakan keprihatinan atas terjadinya kembali konfrontasi militer dan tindakan Iran di kawasan tersebut. Namun, Iran mendesak negara-negara yang menampung pasukan AS untuk segera menghentikan wilayah mereka menjadi landasan peluncuran serangan terhadap Iran.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga