Inggris akan mengerahkan drone, jet tempur, dan kapal perang sebagai bagian dari misi multinasional di masa depan untuk mengamankan Selat Hormuz. Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz dibatasi imbas perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari.
Pengumuman Kementerian Pertahanan Inggris
Kementerian Pertahanan Inggris, seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (13/5/2026), mengumumkan bahwa sejumlah drone, beberapa jet tempur Typhoon, dan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Dragon, akan dikerahkan dalam misi keamanan tersebut. Pengumuman ini disampaikan setelah pertemuan puncak virtual yang melibatkan para Menteri Pertahanan dan perwakilan lebih dari 40 negara yang berpartisipasi dalam misi militer multinasional yang direncanakan.
Kontribusi Inggris
Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, kontribusi London akan mencakup sistem pencarian ranjau otonom, kemampuan anti-drone, dan spesialis pembersihan ranjau, yang didukung oleh pendanaan baru sebesar 115 juta Poundsterling. Kontribusi itu juga akan mencakup sistem modular "Beehive" milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang dilengkapi dengan kapal drone Kraken otonom, yang dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan merespons ancaman.
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan bahwa HMS Dragon sudah bergerak menuju Timur Tengah setelah persiapan dan pelatihan tambahan. Sistem pertahanan udara canggih Sea Viper milik kapal perusak tersebut akan tersedia untuk potensi operasi masa mendatang di Selat Hormuz. Sejumlah jet tempur Typhoon milik Inggris yang telah ditempatkan di kawasan tersebut juga akan disiapkan untuk melakukan patroli udara di atas jalur perairan strategis tersebut.
Pernyataan Menteri Pertahanan
Menteri Pertahanan John Healey mengatakan bahwa Inggris "memainkan peran utama untuk mengamankan Selat Hormuz". "Pendanaan baru untuk sistem pemburu ranjau otonom dan anti-drone, jet Typhoon canggih kami, dan HMS Dragon merupakan komitmen yang kuat dan jelas," tegas Healey dalam pernyataannya. "Bersama sekutu-sekutu kami, misi multinasional ini akan bersifat defensif, independen, dan kredibel," sebutnya.
Tujuan Misi
Lebih lanjut, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan bahwa operasi itu akan diaktifkan "ketika kondisi memungkinkan" dan menekankan bahwa tujuan misi tersebut adalah untuk memulihkan kepercayaan pada pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Inggris saat ini memiliki lebih dari 1.000 personel militer yang ditempatkan di berbagai negara di Timur Tengah, termasuk tim anti-drone dan skuadron jet tempur.



