Kebakaran hutan yang dipicu gelombang panas melanda Prancis barat daya, memaksa hampir 3.000 orang, termasuk wisatawan dan penduduk setempat, untuk mengungsi. Peristiwa ini terjadi di kota Sainte-Marie-la-Mer dan meluas hingga Canet-en-Roussillon.
Kobaran Api Hancurkan Puluhan Karavan
Kebakaran bermula di sebuah area perkemahan, menghancurkan puluhan rumah mobil atau karavan, sebelum merembet ke kawasan dermaga. Asap tebal beracun menyelimuti kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan.
Petugas pemadam kebakaran menyatakan bahwa hampir 3.000 orang telah dievakuasi, dengan separuh di antaranya berasal dari tiga lokasi perkemahan di wilayah terdampak. Dua petugas pemadam kebakaran mengalami luka ringan, menurut pejabat daerah tertinggi wilayah Pyrenees-Orientales, Pierre Regnault de La Mothe.
Upaya Pemadaman dan Dukungan Relawan
Sebanyak 200 petugas pemadam kebakaran dan empat helikopter pengebom air dikerahkan untuk memadamkan kobaran api. Kepala daerah setempat menyatakan, "Kami memobilisasi jaringan sukarelawan dalam jumlah besar."
Pada bulan Juni, Prancis dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor selama 11 hari berturut-turut, dengan suhu melonjak hingga di atas 40°C di berbagai tempat. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas ini tidak hanya berdampak besar pada kesehatan manusia, ekosistem, pertanian, dan infrastruktur, tetapi juga memperburuk risiko kebakaran hutan.
Dampak Gelombang Panas Ekstrem
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa, termasuk Prancis, telah menimbulkan dampak serius. Sebelumnya, dilaporkan bahwa panas ekstrem di Spanyol menewaskan 1.000 orang. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana serupa di wilayah lain.



