Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah akan memberikan Amerika Serikat pelajaran yang tak terlupakan sebagai respons atas serangan udara AS di wilayah selatan Iran. Sumpah ini disampaikan dalam pernyataan resmi Komando Tinggi IRGC pada Senin, 20 Juli 2026, dan dilansir oleh Press TV, Selasa (21/7/2026).
Latar Belakang Serangan dan Pelanggaran Perjanjian
Serangan udara AS terjadi di selatan Iran, melanggar perjanjian sementara yang ditandatangani kedua negara bulan lalu untuk mengakhiri pertempuran secara permanen. IRGC menegaskan bahwa tindakan AS menunjukkan ketidakpercayaan terhadap janji-janji negosiasi. Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan: "Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan 'pelajaran yang tak terlupakan'... pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya."
Pernyataan IRGC dan Dukungan terhadap Pemimpin Revolusi
Pernyataan IRGC merupakan tanggapan terhadap seruan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, yang menyerukan persatuan nasional menghadapi agresi AS. IRGC menegaskan akan terus mematuhi arahan dan perintah Khamenei dalam membela kedaulatan dan integritas wilayah Iran. Mereka juga menyatakan tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janjinya untuk mencapai penyelesaian melalui negosiasi. "Kami berjanji bahwa... kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran," demikian sebagian isi pernyataan tersebut.
Reaksi Mojtaba Khamenei dan Peringatan AS
Sebelumnya, Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa serangan terbaru AS membuktikan betapa tidak berharganya tanda tangan seorang presiden AS. Ia bersumpah bahwa Iran dan pasukan perlawanan sekutu di kawasan akan memberi pelajaran tak terlupakan kepada AS. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan kepada warga Amerika di seluruh dunia untuk meningkatkan kewaspadaan terkait perang dengan Iran. Peringatan yang dirilis Senin (20/7) itu menyebutkan bahwa "karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kondisi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tidak terduga." Deplu AS juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas diplomatik AS atau lokasi terkait AS di seluruh dunia.
Dampak dan Imbauan bagi Warga AS
Deplu AS mendesak warga Amerika di luar Timur Tengah untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui wilayah tersebut. Peringatan ini dikeluarkan di tengah konflik yang memanas antara AS dan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyatakan negaranya saat ini tengah menghadapi "perang skala penuh" dengan AS, dan menekankan bahwa pemerintah serta masyarakat harus siap menghadapi berbagai konsekuensi, terutama di sektor ekonomi.



