Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mengambil tindakan tegas dengan mencopot Lurah Poasia berinisial ZM (53) dan Lurah Talia berinisial RAK (41) dari jabatan mereka. Pencopotan ini dilakukan setelah keduanya terlibat dalam pesta minuman keras di kantor Kelurahan Poasia bersama dua orang wanita, yang hampir berujung pada amukan massa.
Penonaktifan Dua Lurah
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kendari, Alfian, menyatakan bahwa kedua lurah tersebut dinonaktifkan sementara untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. "Menyikapi kejadian ini, kita nonaktifkan keduanya untuk menyelesaikan persoalan mereka," ujar Alfian dalam keterangannya pada Minggu, 14 Juni 2026.
Alfian menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat terkait insiden yang terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, dan segera berkoordinasi dengan pimpinan wilayah. "Pemkot membenarkan memang ada informasi dari masyarakat. Kami telah konfirmasi kepada Camat Abeli," tambahnya.
Plt Segera Ditunjuk
Dalam waktu dekat, pemerintah akan menunjuk pelaksana tugas (Plt) untuk menggantikan sementara kedua lurah tersebut. Pemkot Kendari memastikan bahwa proses pelayanan di dua kantor lurah tetap berjalan seperti biasa. "Untuk sementara, tugas-tugas pemerintahan akan dijalankan oleh pejabat pelaksana tugas untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan di wilayahnya sampai ditunjuk pejabat definitif," jelas Alfian.
Kronologi Kejadian
Sebelumnya, petugas kepolisian berhasil mengamankan kedua lurah tersebut setelah mereka nyaris menjadi sasaran amukan warga. Warga setempat marah setelah mengetahui bahwa kantor kelurahan dijadikan tempat pesta miras dan diduga melibatkan pekerja seks komersial (PSK). Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan bahwa petugas mengamankan kedua lurah bersama dua wanita. "Iya betul, petugas mengamankan kedua lurah tersebut bersama dua wanita," kata Welliwanto pada Minggu, 14 Juni 2026.
Peristiwa terjadi pada Jumat malam, di mana Lurah Poasia dan Lurah Talia diduga menggelar pesta miras di kantor Lurah Poasia sambil memesan dua wanita melalui aplikasi. Namun, terjadi cekcok karena ketidaksesuaian harga yang disepakati. Pertengkaran tersebut akhirnya terdengar oleh warga setempat yang kemudian mendatangi lokasi. Warga emosi setelah melihat kondisi kantor pemerintahan dijadikan tempat prostitusi. "Dua wanita ini dipesan melalui aplikasi hijau, sementara ini masih kita dalami," ungkap Welliwanto.



