AS Luncurkan Operasi 'Epic Fury' ke Iran, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei Tewas
Washington DC - Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran yang diberi nama kode Operasi 'Epic Fury'. Serangan udara presisi ini dilaporkan mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta menyebabkan kerusakan signifikan di berbagai fasilitas militer di Teheran dan wilayah lainnya.
Menteri Pertahanan AS Puji Operasi sebagai yang Paling Mematikan
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam pernyataannya yang diunggah di platform media sosial X, memuji Operasi 'Epic Fury' sebagai operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah militer Amerika Serikat. Hegseth menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons terhadap ancaman yang telah lama dilakukan Iran terhadap warga Amerika.
"Rezim Iran memiliki kesempatan untuk berunding, namun mereka menolak membuat kesepakatan - dan sekarang mereka harus menanggung konsekuensinya. Selama hampir lima puluh tahun, Iran terus menargetkan dan membunuh warga Amerika, selalu mencari senjata paling ampuh untuk memajukan agenda radikal mereka. Malam tadi, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump akhirnya mengambil tindakan tegas untuk menangani kanker ini," tegas Hegseth.
Target Utama: Fasilitas Militer dan Rudal Iran
Menurut keterangan resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM), Operasi 'Epic Fury' dimulai pada tanggal 28 Februari 2026 atas perintah langsung Presiden Donald Trump. Serangan dilancarkan pada pukul 01.15 waktu AS dengan tujuan utama melumpuhkan aparat keamanan rezim Iran.
Target serangan mencakup:
- Fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam
- Sistem pertahanan udara Iran
- Lokasi peluncuran rudal dan drone
- Lapangan terbang militer strategis
Hegseth menambahkan bahwa operasi ini secara khusus ditujukan untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran, produksi rudal, serta angkatan laut mereka. "Kami tidak akan mentolerir rudal-rudal ampuh yang mengancam rakyat Amerika. Seperti yang selalu ditekankan Presiden Trump, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," tegasnya.
Gelombang Serangan dan Respons Iran
Jam-jam pertama operasi melibatkan peluncuran amunisi presisi dari berbagai platform:
- Serangan udara dari pesawat tempur
- Peluncuran rudal dari kapal perang di laut
- Serangan darat dari posisi artileri
- Penggunaan drone serang satu arah berbiaya rendah oleh Satuan Tugas Scorpion Strike CENTCOM
Setelah gelombang awal serangan AS dan sekutunya, pasukan CENTCOM harus menghadapi respons balasan dari Iran berupa ratusan serangan rudal dan drone. Namun, menurut komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, tidak ada laporan korban jiwa atau cedera di pihak AS, dan kerusakan pada instalasi Amerika minimal sehingga tidak mengganggu operasi lanjutan.
Operasi Militer Terbesar dalam Satu Generasi
Operasi Epic Fury menandai konsentrasi kekuatan militer AS terbesar di kawasan Arab dalam satu generasi terakhir. Hegseth menekankan bahwa Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi berkomitmen untuk mengakhirinya.
"Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami yang akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia - seperti yang telah dilakukan Iran - maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda," tegas Menteri Pertahanan AS tersebut.
Sementara itu, di Iran, berita tewasnya Ali Khamenei telah memicu berbagai reaksi, termasuk momen emosional ketika presenter televisi Iran menangis saat mengumumkan kematian pemimpin tertinggi tersebut. Serangan AS ini juga dilaporkan memicu protes dalam negeri di Amerika Serikat, dengan mantan Wakil Presiden AS mengkritik keras tindakan militer tersebut.
