Serangan Terbaru Israel di Gaza Tewaskan Lima Warga Sipil
Serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Jumat (27/2/2026) dini hari telah menewaskan sedikitnya lima orang warga Palestina dan melukai beberapa lainnya. Insiden ini menandai eskalasi kekerasan terbaru di wilayah konflik tersebut, meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Hamas telah memasuki fase kedua bulan lalu.
Rincian Serangan dan Korban Jiwa
Badan pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi sebagai pasukan penyelamat di bawah otoritas Hamas, melaporkan bahwa serangan udara Israel di Gaza tengah pada Jumat dini hari menewaskan dua orang dan melukai satu orang lainnya. Tak lama setelah tengah malam, serangan drone Israel juga terjadi di selatan Jalur Gaza, yang mengakibatkan tiga orang tewas dan beberapa lainnya terluka.
Kementerian Kesehatan Gaza, yang juga beroperasi di bawah Hamas, menyatakan bahwa setidaknya 618 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata dimulai. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa setidaknya lima tentaranya telah gugur dalam periode yang sama.
Klaim Militer Israel dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Militer Israel mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa mereka menyerang anggota Hamas bersenjata di daerah Rafah di Gaza selatan pada Jumat malam. Serangan ini diklaim sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran perjanjian gencatan senjata" oleh Hamas.
"Pasukan Israel mengidentifikasi beberapa pasukan bersenjata yang muncul dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur. Tak lama kemudian, pasukan bersama Angkatan Udara Israel menyerang dan melenyapkan beberapa orang untuk menghilangkan ancaman," bunyi pernyataan militer Israel tersebut. Mereka menegaskan bahwa serangan dilakukan secara tepat terhadap kelompok Hamas bersenjata di daerah Rafah.
Latar Belakang Gencatan Senjata dan Situasi Terkini
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku pada 10 Oktober, seharusnya meredakan ketegangan di Gaza. Berdasarkan ketentuan perjanjian, pasukan Israel diharuskan mundur ke posisi di belakang apa yang disebut "Garis Kuning", meskipun mereka tetap menguasai lebih dari setengah wilayah tersebut.
Namun, kekerasan terus berlanjut dengan kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran. Pembatasan media dan akses terbatas di Gaza telah menyulitkan verifikasi independen terhadap angka korban atau liputan langsung dari pertempuran, seperti yang dialami oleh kantor berita AFP.
Insiden terbaru ini memperlihatkan betapa rapuhnya gencatan senjata dan bagaimana konflik yang berkepanjangan terus mengorbankan nyawa warga sipil di kedua belah pihak. Situasi di Gaza tetap menjadi perhatian internasional, dengan harapan agar upaya perdamaian dapat segera diwujudkan untuk mencegah korban lebih lanjut.
