SBY Ungkap Misi Rahasia: Kirim AHY dan Dua Menteri ke Lebanon untuk Perdamaian
SBY Kirim AHY dan Dua Menteri ke Lebanon untuk Perdamaian

SBY Buka Suara: Misi Perdamaian Lebanon yang Melibatkan Putra dan Dua Menteri

Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kisah menarik tentang pengiriman pasukan perdamaian ke Lebanon pada tahun 2006. Dalam wawancara khusus dengan Liputan6.com di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025), SBY bercerita bahwa ia pernah mengirimkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama dua tokoh lainnya, Iftitah Sulaiman dan Ossy Dermawan, sebagai bagian dari kontingen perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dari Lettu ke Posisi Strategis Kabinet

Ketika dikirim ke Lebanon pada November 2006, AHY dan Ossy Dermawan masih berpangkat Letnan Dua (Lettu), sementara Iftitah Sulaiman berpangkat Kapten. Mereka tergabung dalam Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, yang mengemban misi mulia menjaga perdamaian di wilayah konflik. Kini, setelah 20 tahun berlalu, ketiga prajurit TNI tersebut telah naik pangkat menjadi tokoh nasional yang memegang jabatan penting di Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. AHY menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Iftitah Sulaiman menjadi Menteri Transmigrasi, dan Ossy Dermawan menduduki posisi Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

SBY menegaskan bahwa pengiriman pasukan perdamaian ke Lebanon merupakan inisiatif pribadinya saat masih menjabat sebagai presiden. "Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalion plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Lebanon. Ini ada sejarahnya," ujar SBY seperti dikutip dari akun X pribadinya, Senin (6/4/2026). Ia juga menyebutkan bahwa hingga tahun 2026, kontingen Indonesia telah bertugas 19 kali di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun, yang mungkin menjadi misi PBB terlama yang diemban oleh pasukan Indonesia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Latar Belakang Konflik dan Upaya Diplomasi

Sejarah mencatat bahwa pada Agustus 2006, perang antara Israel dan Lebanon meletus, mengakibatkan banyak korban jiwa, terutama di pihak Lebanon. Dewan Keamanan PBB saat itu belum mengambil langkah efektif untuk menghentikan konflik. Dalam situasi genting ini, SBY mengaku mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Badawi, untuk segera menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar 'emergency meeting' guna mendesak PBB untuk segera bertindak," jelas SBY. Pertemuan darurat OKI kemudian digelar di Kuala Lumpur, dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara, termasuk Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Lebanon Fouad Siniora.

Dalam forum tersebut, SBY menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirim satu batalion pasukan yang diperkuat sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian di perbatasan Israel-Lebanon. "Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalion diperkuat sebagai bagian dari 'peacekeeping mission' di perbatasan Israel dan Lebanon. Artinya, setelah terjadi 'ceasefire' atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut," tambah SBY.

Proses Cepat Pengadaan Alutsista dan Pesan untuk Prajurit

SBY juga mengenang proses cepat pengadaan kendaraan tempur untuk mendukung misi tersebut. Karena kendaraan tempur Anoa buatan dalam negeri belum siap digunakan, ia langsung menghubungi Presiden Prancis Jacques Chirac untuk pembelian kendaraan tempur VAB melalui skema government to government (G to G). "Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Prancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Lebanon. Alhamdulillah, Prancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat," imbuhnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Menutup ceritanya, SBY berpesan kepada prajurit TNI yang masih bertugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon untuk tetap semangat dan gigih menjalankan tugas. "Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," sambungnya.

Korban Jiwa dalam Misi Perdamaian

Sebagai catatan penting, tiga prajurit TNI gugur saat bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon, terkena serangan dari Israel yang tengah berperang dengan Hizbullah. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Selain itu, lima anggota lainnya mengalami luka-luka, yaitu Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, Praka Arif Kurniawan, dan Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana. Kisah ini mengingatkan betapa berharganya pengorbanan para prajurit dalam menjaga perdamaian dunia.