Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataannya, Megawati mengenang Khamenei sebagai sosok patriotik yang teguh pada prinsip dan memiliki semangat perjuangan yang membara. Kepergian Khamenei, menurut Megawati, merupakan kehilangan besar bagi Iran dan dunia, terutama bagi mereka yang memperjuangkan keadilan.
Kenangan Pertemuan Langsung dengan Khamenei
Dalam rekaman pernyataan yang diterima pada Selasa (7/7/2026), Megawati mengungkapkan kesan mendalam saat bertemu langsung dengan Khamenei dalam kunjungan resmi ke Teheran pada 2004. "Dalam pertemuan itulah saya berkesempatan bertatap muka langsung dengan beliau. Saat itu, saya merasakan pancaran kharisma yang sangat kuat dan keteduhan hati yang sangat dalam. Beliau adalah seorang ulama yang lembut namun teguh memegang prinsip, sekaligus seorang negarawan yang peka terhadap derita bangsanya," ujar Megawati.
Megawati juga menekankan bahwa dalam diri Khamenei, ia melihat gema perjuangan yang pernah dirintis oleh ayahandanya, Bung Karno. "Bagi saya pribadi, sosok Ayatollah Ali Khamenei bukanlah sekadar pemimpin politik atau tokoh agama dari bangsa Iran yang dikenal sangat patriotik dan tidak pernah mengenal kata menyerah. Dalam diri beliau, saya melihat gema perjuangan yang pernah dirintis oleh ayahanda saya, Bung Karno," sambungnya.
Pancasila dan Semangat Bandung sebagai Jembatan Batin
Ketua Umum PDIP ini mengungkapkan bahwa Khamenei pernah memandang Pancasila dan semangat Bandung sebagai salah satu referensi penting dalam merumuskan visi Iran yang merdeka dan bermartabat. "Bagi saya, ini bukanlah pujian diplomatik. Itu adalah pengakuan bahwa ada jembatan batin yang mendalam antara kedua bangsa. Sebuah jembatan yang dibangun dari pengalaman bersama melawan penjajahan, intervensi asing dan luka-luka sejarah, serta pengharapan akan dunia yang lebih adil dan bermartabat," tutur dia.
Megawati menegaskan bahwa kepergian Khamenei bukan hanya kehilangan seorang pemimpin Iran, tetapi juga seorang penjaga api perjuangan dunia ketiga. "Oleh karenanya, ketika hari ini kita melepas kepergian beliau, saya tidak hanya merasakan kehilangan seorang pemimpin Iran, akan tetapi juga seorang penjaga api perjuangan dunia ketiga," sambungnya.
Dukungan untuk Penyelesaian Konflik Secara Damai
Dalam pernyataannya, Megawati juga menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian konflik melalui jalur damai, dialog yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. "Hari ini, dalam kenangan indah terhadap beliau, saya ingin menegaskan kembali keberpihakan saya pada penyelesaian konflik melalui jalan damai, dialog yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan kemanusiaan, bukan pada kekerasan dan agresi bersenjata sepihak," tutur dia.
Megawati menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga almarhum, para pemimpin, ulama, dan seluruh rakyat Iran. "Kepada keluarga besar Almarhum, para pemimpin dan ulama Iran, serta seluruh rakyat Iran, izinkan saya menyampaikan doa yang paling tulus. Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang melapangkan jalan bagi beliau, menerima seluruh amal perjuangannya, dan mengampuni segala kekhilafannya. Semoga rakyat Iran dianugerahi kekuatan, persatuan, dan kebijaksanaan untuk melalui masa-masa sulit ini, di tengah badai sejarah yang sedang bergelora," kata dia.
Prosesi Pemakaman Khamenei di Teheran
Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei digelar di Teheran pada Senin, 6 Juli 2026. Ribuan pelayat mengelilingi sebuah truk yang membawa peti mati mendiang Pemimpin Tertinggi Iran beserta anggota keluarganya. Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut, mencerminkan besarnya pengaruh Khamenei di Iran dan dunia.
Megawati mengakhiri pernyataannya dengan ungkapan perpisahan yang penuh hormat. "Selamat jalan Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei. Kami melepas kepergianmu dengan doa, rasa hormat dan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu," tutup Megawati.



