Krisis Pengungsian Besar-besaran di Iran dan Lebanon Akibat Serangan AS-Israel
Krisis Pengungsian Besar di Iran dan Lebanon Akibat Perang

Krisis Pengungsian Besar-besaran di Iran dan Lebanon Akibat Serangan AS-Israel

Sebanyak tiga juta warga Iran dan setidaknya satu juta warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dilansir dari Al Jazeera pada Kamis (26/3/2026), perang ini telah menewaskan lebih dari 1.500 orang di Iran, dengan angka yang dianggap konservatif karena perhitungan resmi belum dirilis oleh pihak berwenang.

Dampak Parah di Iran: Pengungsian dan Kerusakan Infrastruktur

Badan pengungsi PBB, UNHCR, memperkirakan bahwa 3,2 juta orang telah mengungsi di Iran sejak serangan dimulai pada 28 Februari. Angka ini melebihi 3 persen dari total populasi negara tersebut. Dua puluh tujuh hari setelah konflik, badan-badan bantuan dan negara-negara tetangga bersiap menghadapi potensi krisis pengungsi yang lebih besar.

Di dalam Iran, warga sipil terpaksa meninggalkan reruntuhan rumah mereka. Lebih dari 85.176 situs sipil telah rusak, termasuk 282 fasilitas perawatan kesehatan, 600 sekolah, dan 64.583 rumah. Di Teheran saja, pemerintah kota melaporkan hampir 14.000 unit hunian rusak dan setidaknya 6.000 orang ditampung di hotel-hotel kota.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Negara-negara tetangga juga merasakan dampaknya:

  • Di Afghanistan, sebagian besar pendatang adalah warga Afghanistan yang kembali dari Iran karena alasan keamanan atau pemulangan paksa.
  • Pakistan hanya melaporkan masuknya warga negara atau pedagang yang diizinkan, tanpa arus pengungsi signifikan.
  • Irak menyaksikan kepulangan dalam skala kecil, dengan 325 warga Iran menyeberangi perbatasan akibat krisis.

Situasi Mengkhawatirkan di Lebanon: Perintah Evakuasi dan Pendudukan

Lebanon juga menghadapi krisis pengungsian serius, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi. Tentara Israel telah memperluas perintah pengungsian paksa bagi penduduk Lebanon selatan, dari Sungai Litani hingga utara Sungai Zahrani, mencakup area sekitar 40 km dari perbatasan Israel.

Menurut Dewan Pengungsi Norwegia, perintah evakuasi besar-besaran ini kini meliputi lebih dari 1.470 km persegi, atau sekitar 14 persen wilayah Lebanon. Pasukan darat Israel semakin memperluas pendudukan de facto di selatan, dengan klaim ingin menciptakan "zona penyangga".

Organisasi Internasional untuk Migrasi mencatat jumlah total pengungsi terdaftar mencapai 1.049.328, dengan 132.742 di antaranya tinggal di tempat penampungan kolektif. Namun, laju pengungsian telah melampaui kapasitas penampungan, menyebabkan banyak keluarga menghabiskan malam di jalanan, kendaraan, atau ruang publik.

Eksodus ke Negara Tetangga dan Implikasi Kemanusiaan

Lebih dari 250.000 orang telah meninggalkan Lebanon dalam dua minggu terakhir, meningkat 40 persen dibandingkan periode serupa di Februari. Sebagian besar pergerakan menuju Suriah, dengan lebih dari 125.000 orang menyeberangi perbatasan hingga 17 Maret. Hampir setengah dari pengungsi ini adalah anak-anak, dan mayoritas adalah warga Suriah, dengan sekitar 7.000 warga Lebanon di antaranya.

Krisis ini menyoroti urgensi bantuan kemanusiaan dan resolusi konflik untuk mencegah penderitaan lebih lanjut bagi warga sipil yang terdampak.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga