Komisi I DPR: Tarik TNI dari Lebanon Harus Dikaji Matang, Jangan Tergesa-gesa
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa wacana penarikan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Lebanon harus melalui kajian yang matang dan tidak boleh diambil secara terburu-buru. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden terbaru di mana tiga prajurit TNI kembali menjadi korban luka-luka akibat ledakan di wilayah El Adeisse, Lebanon selatan.
Evaluasi Total Keselamatan Prajurit di Wilayah Konflik
Dave Laksono meminta pemerintah melakukan evaluasi total terkait keselamatan prajurit Indonesia yang bertugas di daerah konflik. "Setiap insiden yang menimpa prajurit TNI di Lebanon menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi TNI, Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa," ujarnya saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).
Ledakan yang terjadi pada Sabtu (3/4) tersebut menambah daftar korban dari pasukan TNI di Lebanon. Sebelumnya, tiga prajurit TNI telah gugur setelah terkena ledakan serangan Israel, memperburuk kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Pertimbangan Strategis dalam Penarikan Pasukan
Mengenai potensi penarikan pasukan TNI dari Lebanon, Dave menekankan bahwa keputusan tersebut harus didasarkan pada pertimbangan strategis yang mendalam. "Penarikan pasukan tentu bukan keputusan yang dapat diambil secara tergesa-gesa, melainkan harus melalui pertimbangan strategis yang matang," tegasnya.
Dia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat terhadap mandat perdamaian dunia, dan kehadiran prajurit TNI dalam pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) merupakan bagian dari tanggung jawab tersebut. "Indonesia memiliki komitmen kuat terhadap mandat perdamaian dunia, dan kehadiran prajurit TNI di UNIFIL merupakan bagian dari tanggung jawab tersebut," kata Dave.
Prioritas Keselamatan dan Kontribusi Global
Menurut Dave, pemerintah harus mengevaluasi prosedur keselamatan prajurit TNI di Lebanon, sambil memastikan Indonesia tetap berkontribusi dalam misi perdamaian dunia melalui UNIFIL. "Sikap yang perlu ditegaskan adalah menempatkan keselamatan prajurit sebagai prioritas utama, sembari memastikan bahwa kontribusi Indonesia dalam misi UNIFIL tetap dijalankan dengan penuh kehormatan," ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa langkah-langkah preventif yang terukur serta diplomasi yang konstruktif menjadi kunci untuk menekan risiko. "Langkah-langkah preventif yang terukur serta diplomasi yang konstruktif menjadi kunci untuk menekan risiko, sekaligus menegaskan bahwa peran Indonesia di panggung internasional tetap bernilai strategis dan mendapat penghormatan dari komunitas global," sambung Dave.
Insiden ini menyoroti tantangan yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon, di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik di wilayah tersebut. Komisi I DPR terus mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat guna melindungi prajurit tanpa mengabaikan peran strategis Indonesia di kancah internasional.



