Israel Umumkan Pemimpin Hizbullah Naim Qassem Jadi Target Eliminasi
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara resmi mengumumkan bahwa pemimpin kelompok Hizbullah, Naim Qassem, kini ditetapkan sebagai target untuk dieliminasi. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 2 Maret 2026, sebagai respons atas serangan roket dan drone yang diluncurkan Hizbullah ke wilayah Israel. Serangan tersebut dilakukan sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS dan Israel sebelumnya.
Eskalasi Konflik dan Pernyataan Tegas Israel
Dalam pernyataannya yang dilansir oleh Al Arabiya dan Anadolu Agency, Katz menegaskan bahwa Hizbullah akan membayar harga yang mahal atas serangan ke arah Israel. Ia menyebut Naim Qassem, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Hizbullah, sebagai pihak yang memutuskan penyerangan di bawah tekanan dari Iran. Katz berjanji bahwa siapa pun yang mengikuti jejak Khamenei akan menghadapi konsekuensi serupa.
Israel telah membalas serangan Hizbullah dengan menggempur target-target kelompok tersebut di wilayah Lebanon. Serangan balasan ini dilaporkan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, dengan sedikitnya 31 orang tewas dan sekitar 149 orang terluka, menurut laporan National News Agency (NNA) Lebanon yang dikutip Al Jazeera. Gempuran militer Israel terutama menghantam area pinggiran selatan Beirut dan wilayah Lebanon bagian selatan, yang dikenal sebagai markas kuat Hizbullah.
Persiapan untuk Pertempuran Berkepanjangan
Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengindikasikan bahwa pertempuran melawan Hizbullah bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dalam pernyataan video yang dibagikan militer Israel dan dilaporkan AFP, Zamir menyatakan bahwa Israel telah melancarkan kampanye ofensif dan harus bersiap untuk pertempuran selama berhari-hari, bahkan banyak hari.
Pertempuran terbaru ini memperluas perang yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah, yang dimulai dengan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Eskalasi ini menandai peningkatan ketegangan yang signifikan, dengan Israel menegaskan komitmennya untuk menargetkan pemimpin Hizbullah sebagai bagian dari strategi keamanannya.
