Ibas Serukan Pemuda Aktif Bangun Bangsa: Idealisme Harus Diwujudkan dalam Aksi Nyata
Generasi muda Indonesia dituntut untuk menjadi kekuatan pemersatu bangsa sekaligus penggerak perubahan sosial yang aktif dan kreatif. Pesan tegas ini disampaikan oleh Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, dalam sebuah audiensi bersama berbagai organisasi kepemudaan di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Perbedaan Bukan Penghalang Persatuan
Sebagai Wakil Ketua MPR RI dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Ibas menegaskan bahwa perbedaan latar belakang organisasi tidak boleh menjadi penghalang bagi persatuan generasi muda. Forum tersebut dihadiri oleh kader dari berbagai elemen, termasuk PMII, HMI, GMNI, IMM, IPNU, IPPNU, GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, hingga perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus Islam.
"Kita boleh berbeda organisasi, berbeda warna, bahkan berbeda cara pandang. Tetapi tujuan kita tetap satu, yaitu Indonesia yang lebih maju, aman, adil, demokratis, dan sejahtera," ujar Ibas, yang juga merupakan Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII.
Bonus Demografi sebagai Peluang Besar
Menurut Ibas, bonus demografi yang dialami Indonesia saat ini merupakan peluang besar yang hanya dapat berhasil jika generasi muda mampu mempersiapkan diri dengan karakter kuat, literasi yang baik, serta semangat kolaborasi lintas organisasi. "Muda adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Jangan sampai bonus demografi justru menjadi masalah jika generasi mudanya tidak siap dan kehilangan arah," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak di tengah era digital yang berkembang pesat. Teknologi, menurutnya, harus menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan ruang penyebaran informasi negatif atau konflik sosial. "Gunakan teknologi untuk belajar, mencari data yang benar, dan membangun gagasan positif. Kepintaran teknologi harus tetap diimbangi moral dan etika," jelas Edhie Baskoro.
Empat Langkah Strategis untuk Pemuda
Sebagai solusi konkret, Ibas mendorong empat langkah strategis yang harus diambil oleh pemuda Indonesia:
- Memperkuat literasi digital, politik, dan kebangsaan.
- Membangun kolaborasi lintas organisasi kepemudaan.
- Mengutamakan aksi nyata di lapangan, bukan sekadar diskusi.
- Merawat dialog yang sehat dan menolak segala bentuk provokasi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menawarkan sejumlah program kawalan bersama, antara lain:
- Gerakan Pemuda Kawal Konstitusi, melalui sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan diskusi kampus.
- Ramadan Berbagi, Negeri Peduli, berupa aksi sosial lintas organisasi kepemudaan.
- Forum rutin pemuda untuk mengawal kebijakan publik dan memberikan rekomendasi tertulis kepada DPR dan MPR.
- Inkubasi ekonomi kreatif kader untuk mendorong kemandirian ekonomi pemuda.
Pancasila sebagai Tindakan Nyata
Ibas menegaskan pentingnya implementasi nilai Pancasila dalam tindakan nyata sehari-hari. "Pancasila bukan slogan, tetapi tindakan. NKRI harga mati bukan teriakan, tetapi komitmen," ujarnya dengan penuh semangat. Ia mengajak seluruh pemuda untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat iman sekaligus merawat persatuan bangsa.
"Agama memberi cahaya. Kebangsaan memberi arah. Bersatu dalam visi. Aktif dalam aksi. Kreatif dalam solusi. Kita bukan generasi rebahan. Kita generasi perubahan," tutupnya dalam pertemuan yang berlangsung dinamis dan penuh semangat kebangsaan.
Dialog Terbuka dengan Peserta
Dalam sesi dialog terbuka, peserta audiensi turut menyampaikan aspirasi dan pertanyaan secara langsung. Irfan dari IPNU Ngawi menanyakan bagaimana generasi muda dapat menemukan sosok panutan yang tepat agar tidak salah arah dalam menentukan langkah perjuangan.
Menanggapi hal tersebut, Edhie Baskoro menekankan bahwa tidak ada figur manusia yang sempurna, sehingga generasi muda tetap harus menjadikan nilai etika dan adab sebagai fondasi utama. "Tidak ada pemimpin yang luput dari kesalahan. Menjadikan seseorang sebagai teladan itu baik, tetapi tetap harus dibarengi sikap kritis, menjaga etika, serta berpegang pada aturan dan nilai yang benar," ungkapnya.
Aspirasi lain disampaikan oleh Irandi dari IBNU Magetan, yang menyoroti peran organisasi kepemudaan dalam mendukung sekaligus menyinergikan kebijakan pemerintah daerah agar mampu melibatkan lebih banyak anak muda lokal. Menurut Ibas, organisasi kepemudaan perlu terus menunjukkan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
"Jangan berkecil hati jika merasa dikotakkan. Terus konsisten melakukan kegiatan yang berdampak. Ketika organisasi hadir memberi manfaat nyata, masyarakat akan melihat sendiri kontribusinya," ujarnya. Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak berhenti pada diskusi semata, melainkan mampu menerjemahkan gagasan menjadi aksi konkret di masyarakat.
"Anak muda sering kuat dalam ide dan diskusi, tetapi tantangannya ada pada eksekusi. Kombinasikan gagasan dengan gerakan nyata agar perubahan benar-benar terasa," tambah Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN tersebut. Ia turut mengajak seluruh organisasi kepemudaan untuk memperkuat ruang dialog demokratis serta menjaga persaingan secara sehat tanpa provokasi maupun konflik antar kelompok.
Pertemuan ini menandai komitmen bersama pemuda lintas organisasi untuk terus bersatu, bergerak, dan memberi dampak nyata bagi umat, rakyat, dan Indonesia secara keseluruhan.
