Anggota DPR Syafruddin Disangka Staf Tenaga Ahli Saat Nongkrong di Kantin Parlemen
DPR Syafruddin Disangka Staf Tenaga Ahli di Kantin Parlemen

Anggota DPR Syafruddin Disangka Staf Tenaga Ahli Saat Nongkrong di Kantin Parlemen

Jakarta - Sebuah unggahan video belakangan ini menjadi viral di media sosial, memperlihatkan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang disangka sebagai staf Tenaga Ahli (TA) saat berkumpul di kantin wilayah Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat. Setelah ditelusuri, sosok tersebut ternyata adalah anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, yang berasal dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Momen Viral dan Percakapan yang Berujung Kaku

Dalam video yang beredar luas, dinarasikan bahwa seorang staf Tenaga Ahli di DPR mengira Syafruddin merupakan rekan sejawatnya. Disebutkan bahwa staf TA tersebut sempat bersikap meninggi saat bercerita, seolah-olah menunjukkan kewenangan atau pengaruhnya dalam lingkungan parlemen.

Syafruddin pun akhirnya buka suara mengenai momen tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat itu ia sedang berkumpul di kantin tanpa menggunakan pin DPR RI yang biasanya menjadi tanda pengenal. "Lagi ngumpul-ngumpul biasa karena kebiasaan saya itu kalau nggak ada jadwal rapat kan suka nongkrong di kantin. Dan tiba-tiba teman kami yang saya juga nggak kenal, orang itu saya nggak kenal. Ya dia ceritanya banyak lah seakan-akan menunjukkan dia itu ya, dia pengatur lah kira-kira gitu," kata Syafruddin saat dihubungi pada Sabtu, 11 April 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menyebutkan bahwa dirinya tidak menyela pernyataan dari staf TA tersebut. Kendati demikian, Syafruddin tiba-tiba ditanyai posisinya sebagai TA dari anggota DPR yang mana. "Saya nggak berani juga nyeletuk, diam aja. Nah tiba-tiba kebetulan dia berinisiatif nanya, 'Abang dari mana?' Ya saya jawab 'Saya dari Kaltim' Ya dia nanya," ujar Syafruddin.

"Dia nanya lagi 'Abang kerja di mana?', 'Saya kerja di DPR' Nah, dia ini langsung nyeletuk, 'Abang TA-nya siapa?'. Ya, saya jawab langsung 'Anu, Bang, saya anggota, Bang,'" tambahnya, menggambarkan percakapan yang berlangsung dengan nada santai namun penuh kejutan.

Suasana Menjadi Kaku dan Reaksi Syafruddin

Syafruddin menyebut setelah percakapan itu, situasi pun menjadi kaku. Ia menilai bahwa staf ahli tersebut merasa malu lantaran sudah bercerita dengan kesan meninggi sebelumnya. "Nah, itu mulai, mulai terkaget dia kan. Ya aku ya enjoy aja, nggak juga saya tanggapin, ya anggap omong biasa aja. Ya, di situlah terlihat ya ada suasana yang nggak enak. Perasaan nggak enak kan, karena memang ya mungkin, ya kasarnya mungkin dia malu mungkin ya. Udah terlanjur cerita-cerita gitu," ungkapnya dengan nada memahami.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak selalu menggunakan setelan perlente hingga pin DPR saat waktu luang. Syafruddin menyebut tidak tersinggung terhadap staf TA DPR tersebut. "Ya karena memang saya itu kan ya nggak bisa juga berpenampilan harus perlente, harus apa eksklusif gitu kan. Ya memang saya biasa aja gitu kan. Ya nggak tersinggung lah, biasa aja. Karena memang kita banyak berinteraksi dengan banyak orang yang memang karakternya berbeda-beda," kata Syafruddin.

"Ada yang suka cerita tinggi-tinggi, ada yang suka cerita rendah-rendah, ada yang sedang-sedang. Jadi bagi kita udah biasa aja kalau bertemu, berjumpa dengan orang yang ceritanya tinggi-tinggi tuh, udah biasa aja gitu," tambahnya, menekankan pengalamannya dalam berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Pengalaman Serupa di Kalimantan Timur

Syafruddin lantas mengungkap bahwa saat di Kalimantan Timur, ia juga sempat mendapatkan pengalaman serupa. Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB Kaltim, ia mengaku tidak masalah dengan anggapan orang lain terhadap dirinya. "Dulu, waktu masih awal-awal jadi ketua PKB Kaltim itu, ya kan saya suka kalau potong rambut itu ya minta dipotong cepak. Kadang-kadang tukang cukurnya nanya 'Abang security ya?' Ya, saya iya kan aja gitu. Artinya udah biasa gitu," cerita Syafruddin.

"Udah sering kali, sering kali. Direndahkan orang juga biasa. Apalagi ya awal-awal mula kita nyaleg gitu loh kan. Ya kita biasa aja. Artinya, suasana dan kondisi seperti itu bagi anggota DPR yang memang senang berinteraksi, senang bertemu masyarakat, ya biasa aja," imbuhnya, menunjukkan sikap rendah hati dan terbuka terhadap berbagai situasi sosial.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Kejadian ini menyoroti dinamika kehidupan sehari-hari di lingkungan parlemen, di mana penampilan sederhana seorang anggota DPR bisa menimbulkan kesalahpahaman. Syafruddin menegaskan bahwa baginya, interaksi dengan masyarakat dalam berbagai kondisi adalah hal yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan, meskipun viral di media sosial.