Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang kompleks parlemen pada Jumat, 5 Juni 2026. Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Menyuarakan Keprihatinan Lingkungan
Dalam aksinya, mahasiswa menyoroti eksploitasi lingkungan di Papua yang dinilai tidak pro masyarakat. Mereka membawa baliho bertuliskan, "Setop eksploitasi. Lingkungan bukan korban pembangunan."
Salah satu orator di atas mobil komando mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi masyarakat di tengah eksploitasi tersebut. Ia menyoroti banyak orang tua yang anaknya tidak bisa melanjutkan kehidupan, sementara pejabat publik tidak memanfaatkan posisinya untuk mengambil kebijakan pro rakyat.
Kritik terhadap Aparat
"Seorang ibu yang tak bisa membelikan susu untuk anaknya, betul? Tapi mereka yang punya posisi strategis di negeri ini, mereka mengambil kebijakan yang tidak berorientasi pada perubahan yang lebih baik," tegasnya.
Mahasiswa juga menyoroti kasus teror terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus. Mereka mengkritisi arogansi aparat dalam merespons kritik masyarakat. Aksi diakhiri dengan doa bersama dan pembentangan ban. Puluhan aparat kepolisian mengawal ketat jalannya demonstrasi.
"Hari ini juga kita banyak merasa risih dengan kondisi negara kita. Harusnya mereka mengambil dua fungsi, pertama fungsi otak dan hati. Tapi sayangnya pejabat tidak memakai otak dan hatinya," pungkas orator tersebut.



