Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyatakan dukungannya terhadap kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) tahun 2027. Kerangka tersebut sebelumnya disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI.
Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang
Menurut Bamsoet, arah kebijakan fiskal 2027 menunjukkan bahwa pemerintah tengah membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang dengan pendekatan yang lebih realistis, terukur, dan fokus pada penguatan daya tahan nasional. Hal ini dinilai penting di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di tengah perlambatan ekonomi dunia, tensi geopolitik, perang dagang, serta tekanan suku bunga global, pemerintah dinilai tetap mampu menjaga optimisme ekonomi nasional dengan target pertumbuhan 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027.
Bamsoet menegaskan bahwa kerangka ekonomi dan kebijakan fiskal 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo memperlihatkan keberanian pemerintah dalam mengambil langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pembangunan sekaligus memperkuat perlindungan sosial masyarakat. Ia menambahkan bahwa APBN ditempatkan sebagai instrumen perjuangan negara untuk memastikan kesejahteraan rakyat meningkat secara nyata.
Disiplin Fiskal dan Target Defisit
Bamsoet menilai desain RAPBN 2027 memperlihatkan kehati-hatian pemerintah dalam mengelola fiskal. Target defisit pada kisaran 1,80 hingga 2,40 persen terhadap PDB menunjukkan disiplin fiskal tetap dijaga di tengah kebutuhan pembiayaan program prioritas nasional yang semakin besar. Pemerintah tetap mempertahankan ruang fiskal yang sehat agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Langkah tersebut dinilai penting karena berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi dunia di tahun 2026-2027 masih dibayangi perlambatan akibat konflik geopolitik, volatilitas harga energi, serta fragmentasi perdagangan internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi terakhirnya juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih bergerak di kisaran 3 persen.
Bamsoet menekankan bahwa pemerintah sangat tepat menjaga defisit tetap terkendali. Ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar, rating investasi Indonesia, sekaligus memastikan ruang fiskal tetap tersedia menghadapi berbagai tekanan global yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Target Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen
Target pertumbuhan ekonomi menuju 6,5 persen pada 2027 merupakan tekad kuat pemerintah untuk keluar dari stagnasi pertumbuhan lima persen yang selama satu dekade terakhir menjadi pola ekonomi nasional. Namun, target tersebut realistis apabila didukung akselerasi hilirisasi industri, penguatan investasi, perluasan sektor manufaktur, pengembangan ekonomi digital, serta peningkatan konsumsi domestik.
Saat ini, kontribusi ekonomi digital Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi digital diperkirakan melampaui US$ 130 miliar pada tahun 2025. Sementara hilirisasi mineral yang didorong pemerintah telah meningkatkan nilai ekspor produk berbasis nikel, stainless steel, hingga baterai kendaraan listrik secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Bamsoet mengungkapkan bahwa target pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen memang menantang, tetapi sangat mungkin dicapai apabila industrialisasi nasional berjalan konsisten, hilirisasi diperluas, investasi dipermudah, dan penciptaan lapangan kerja formal dipercepat. Indonesia memiliki modal pasar nasional yang besar, bonus demografi, serta sumber daya alam strategis yang menjadi kekuatan utama.
Indikator Kesejahteraan Sosial
Bamsoet menyoroti perhatian pemerintah terhadap indikator kesejahteraan sosial dalam sasaran pembangunan tahun 2027. Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun hingga kisaran 6 sampai 6,5 persen, pengangguran terbuka ditekan menjadi 4,30 hingga 4,87 persen, serta rasio gini berada di level 0,362 sampai 0,367.
Menurutnya, arah kebijakan tersebut memperlihatkan pembangunan ekonomi tidak semata mengejar angka pertumbuhan, melainkan memastikan distribusi kesejahteraan lebih merata. Apalagi ketimpangan sosial dan tekanan biaya hidup masih menjadi tantangan di berbagai daerah akibat dampak inflasi pangan dan pelemahan ekonomi global.
Bamsoet menegaskan bahwa yang paling penting dari pertumbuhan ekonomi adalah dampaknya terhadap kehidupan rakyat. Ketika kemiskinan turun, pengangguran berkurang, dan lapangan kerja formal meningkat, di situlah keberhasilan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Ketahanan Pangan, Energi, dan Industri
Dia menambahkan bahwa arah kebijakan APBN 2027 harus mampu memperkuat ketahanan pangan, energi, dan industri nasional. Target lifting minyak mentah sebesar 602-615 ribu barel per hari serta lifting gas bumi 934-977 ribu barel setara minyak per hari harus diikuti percepatan investasi sektor energi nasional. Menurut Bamsoet, ketahanan energi menjadi isu strategis karena dunia masih menghadapi fluktuasi harga minyak global yang sangat dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah dan ketegangan rantai pasok energi internasional.
Bamsoet menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa pemerintah harus memastikan APBN 2027 menjadi instrumen yang memperkuat kemandirian nasional, baik di sektor pangan, energi, industri maupun sumber daya manusia. Ketahanan ekonomi bangsa hanya dapat tercapai apabila Indonesia mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.



