Akademisi Soroti Ancaman Krisis Ekonomi Indonesia Akibat Konflik Iran-Israel-AS
Akademisi dari berbagai universitas memperingatkan bahwa eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah dapat membawa dampak serius bagi dinamika keamanan Indonesia. Dalam sebuah webinar yang digelar oleh IFORSTRA (Institute for Strategic Transformation), para pakar menyoroti ancaman krisis ekonomi, kerawanan sosial, dan polarisasi ideologi di dalam negeri.
Kerentanan Pasokan Minyak dan Dampak Ekonomi
Tia Mariatul Kibtiah, Dosen Hubungan Internasional Binus University, mengungkapkan bahwa Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan minyak akibat eskalasi di Selat Hormuz. "Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan impor minyak Indonesia, sementara cadangan nasional hanya tersisa untuk 20 hari dan kapasitas mitigasi domestik masih minim," jelas Tia dalam diskusi tersebut.
Dia menambahkan bahwa ketegangan makro ini dipastikan akan menekan pasokan BBM nasional dan berdampak langsung pada kelangsungan sektor usaha mikro. Selain itu, langkah diplomasi Indonesia menghadapi hambatan setelah Iran menolak tawaran mediasi dan mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan blok board of peace (BoP).
Analisis Perang Asimetris dan Risiko Keamanan
M. Syaroni Rofii, Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI dan Pengamat Timur Tengah, menganalisis konflik ini sebagai perang asimetris. "Kekuatan militer dan nuklir Amerika Serikat-Israel berhadapan langsung dengan keunggulan teknologi drone Iran, dalam konflik yang bertujuan mendorong perubahan rezim," kata Syaroni.
Dia menekankan bahwa ketegangan ini juga memicu kerawanan sosial di dalam negeri, ditandai dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI untuk mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal. Dalam situasi ini, Syaroni menyarankan Indonesia mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah strategis di kancah global.
Polarisasi Digital dan Ancaman Terorisme
M. Syauqillah, Direktur Institute for Strategic Transformation dan Pengamat Terorisme, mewanti-wanti pergeseran bahaya konflik ke ruang digital yang memicu polarisasi masyarakat. "Sentimen publik terpecah ke dalam berbagai narasi, mulai dari ajakan jihad, khilafah, isu akhir zaman, hingga polarisasi pro dan anti-Syiah," ujarnya.
Dia mencatat bahwa ancaman menjadi semakin nyata jika kelompok teror mengeksploitasi sentimen tersebut secara masif. Lebih jauh, memanasnya tensi konflik di media sosial turut memperbesar risiko munculnya lone actor atau pelaku teror tunggal yang teradikalisasi secara mandiri.
Rekomendasi Strategi Mitigasi Komprehensif
Menghadapi potensi penyebaran propaganda ideologis di media sosial dan dampak pada ekonomi sosial, Syauqillah menegaskan bahwa strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan. "Tujuannya adalah untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi, dan fragmentasi sosial dengan mempertimbangkan level dari rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem," tandasnya.
Webinar ini dipandu oleh Raja Adelia Oktafia, mahasiswa dari Universitas Pertamina, dengan tema besar konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah yang berefek bagi Indonesia. Diskusi ini menyoroti kerentanan pasokan energi nasional hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri, menekankan pentingnya kesiapan Indonesia dalam menghadapi dinamika keamanan global yang kompleks.



