Puan Maharani Serukan Kritik Santun dan Saling Menghargai di Ruang Publik
Puan Maharani Minta Kritik Dilakukan Secara Santun dan Beretika

Puan Maharani Tegaskan Pentingnya Etika dalam Menyampaikan Kritik di Ruang Publik

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani mengajak seluruh pihak untuk menjaga etika dalam memberikan kritik, dengan menekankan bahwa kritik harus disampaikan secara santun dan penuh penghargaan. Hal ini disampaikan Puan dalam konferensi pers di gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026).

"Hukum harus dijalankan dengan seadil-adilnya, namun kita juga harus bisa menjaga etika dalam memberikan kritik untuk bisa dilakukan secara santun," ujar Puan. Ia menambahkan bahwa baik pengkritik maupun penerima kritik perlu saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Saling Menghargai sebagai Kunci Kritik yang Konstruktif

Puan menjelaskan bahwa dalam proses kritik, terdapat dua posisi yang harus dijaga keseimbangannya. Di satu sisi, pengkritik harus menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik dan sopan. Di sisi lain, penerima kritik juga harus terbuka dan mau menerima masukan jika kritikan tersebut bersifat membangun.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Jadi memang saling menghormati, saling menghargai, harus dilakukan dalam dua posisi, artinya yang memberi kritik juga harus memberikan kritiknya itu secara baik, yang diberi kritiknya juga akan tentu saja akan menerima kalau kritikannya itu memang adalah satu hal yang dilakukan dalam artian kritik membangun," jelas Puan. Ia menegaskan bahwa prinsip saling menghargai harus selalu diutamakan dalam setiap interaksi publik.

Fenomena Pengamat dan Sorotan Pemerintah

Pernyataan Puan ini muncul di tengah sorotan pemerintah terhadap para pakar dan pengamat yang sering memberikan kritik di ruang publik. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya sebelumnya telah mengungkapkan fenomena "inflasi pengamat", di mana banyak individu yang berbicara sebagai ahli tanpa latar belakang yang sesuai dan dengan data yang tidak akurat.

Teddy menyebutkan bahwa pengamat-pengamat tersebut telah berusaha membentuk opini publik sejak lama, bahkan sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden. "Dari sebagian besar, pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah berusaha memengaruhi warga, membentuk opini publik. Bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi Presiden. Jadi pengamat-pengamat itu sudah memengaruhi warga," kata Teddy dalam pernyataannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat (10/4).

Puan Maharani tidak secara langsung merespons pernyataan Teddy, namun seruannya untuk menjaga etika dalam kritik dapat dilihat sebagai upaya untuk menciptakan ruang diskusi yang lebih sehat dan produktif. Dengan menekankan pentingnya santun dan saling menghargai, ia berharap kritik dapat berfungsi sebagai alat perbaikan, bukan sekadar celaan tanpa dasar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga