Bamsoet Gagas Forum Kebangsaan, Wadah Silaturahmi Mantan Pimpinan MPR/DPR 1999-2024
Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) secara resmi menggagas pembentukan Forum Kebangsaan Pimpinan MPR-DPR periode 1999-2024. Forum ini dirancang sebagai wadah silaturahmi dan komunikasi kebangsaan yang menjembatani lintas generasi pimpinan lembaga negara yang pernah memikul tanggung jawab konstitusional.
Ruang Strategis untuk Menghadapi Tantangan Nasional
Bamsoet menegaskan bahwa forum tersebut tidak sekadar ajang pertemuan, melainkan ruang strategis untuk merangkum pandangan dan pengalaman para mantan pimpinan dalam menghadapi berbagai krisis nasional yang kompleks. "Dari forum ini kami ingin menghimpun pandangan strategis untuk memperkuat arah kebijakan nasional sekaligus memberikan kontribusi pemikiran kepada para penyelenggara negara," jelas Bamsoet dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Gagasan ini disampaikan saat ia menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama para pimpinan MPR dan DPR periode 1999-2024 di Parle Senayan, Jakarta, pada Minggu malam (8/3). Forum ini mempertemukan para mantan pimpinan sejak era reformasi, yang memiliki pengalaman langsung menangani berbagai tantangan, mulai dari krisis ekonomi pascareformasi, konflik politik, hingga proses konsolidasi demokrasi.
Modal Pengalaman untuk Masa Depan Bangsa
Bamsoet menilai pengalaman para mantan pimpinan lembaga negara merupakan aset berharga bagi bangsa. "Pengalaman para mantan pimpinan lembaga negara merupakan modal besar bagi bangsa. Kami ingin menghimpun pandangan strategis tersebut agar dapat memberikan perspektif yang lebih luas dalam merespons berbagai tantangan nasional," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peran tokoh senior dalam menjaga keseimbangan demokrasi, terutama di tengah perubahan sosial dan teknologi yang bergerak cepat. Bamsoet menyoroti bagaimana era media sosial telah mengubah pola komunikasi politik secara drastis, sementara ruang diskusi publik sering kali dipenuhi narasi emosional dan terpolarisasi.
Kontribusi Nyata untuk Suhu Politik yang Kondusif
"Silaturahmi kebangsaan ini diharapkan dapat melahirkan kontribusi nyata berupa gagasan strategis yang dapat disampaikan kepada para penyelenggara negara termasuk presiden. Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral kami dalam menjaga suhu politik agar tetap kondusif demi masa depan bangsa," kata Bamsoet.
Ia menambahkan bahwa praktik serupa juga diterapkan di berbagai negara maju. Di Amerika Serikat, mantan pejabat tinggi kerap terlibat dalam forum kebijakan atau lembaga pemikir, sementara di Jepang dan Korea Selatan, mantan pimpinan parlemen dilibatkan dalam forum konsultatif untuk membahas isu-isu strategis nasional.
"Jika para mantan pimpinan lembaga negara dapat bersatu menyumbangkan pemikiran secara konstruktif, saya yakin kontribusi tersebut akan memperkaya perspektif pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategis bagi bangsa dan negara," pungkas Bamsoet.
Dihadiri Tokoh-Tokoh Penting Parlemen
Acara silaturahmi tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan MPR dan DPR periode 1999-2024. Beberapa di antaranya adalah mantan Ketua DPR Agung Laksono dan Marzuki Ali, serta mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Sidarto Danusubroto.
Selain itu, hadir pula mantan Wakil Ketua DPR dan MPR seperti:
- Mahyudin
- Melani Leimena Suharli
- Agus Hermanto
- Lukman Hakim Saifuddin
- Amir Uskara
- Ahmad Basarah
- Priyo Budi Santoso
- Arsul Sani
- Rachmat Gobel
Anggota DPR Robert Kardinal juga turut hadir dalam kesempatan tersebut, memperkuat komitmen forum ini sebagai wadah komunikasi yang inklusif dan konstruktif bagi masa depan politik Indonesia.



