Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mendorong percepatan sensus Orang Asli Papua (OAP) untuk memperkuat implementasi kebijakan dan kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua. Data sensus ini dinilai penting agar program pemerintah dan alokasi anggaran dapat tepat sasaran.
Sensus tersebut merupakan hasil kesepakatan antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan DPR RI dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu. Hal ini disampaikan Ribka saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Data OAP se-Tanah Papua di Hotel Suni Abepura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (21/5).
Data Kependudukan sebagai Indikator Utama
Ribka menyebutkan jumlah penduduk se-Tanah Papua berdasarkan data kependudukan bersih semester II tahun 2025, yaitu Provinsi Papua sebanyak 1.122.097 jiwa, Papua Barat 558.491 jiwa, Papua Selatan 588.837 jiwa, Papua Tengah 1.384.227 jiwa, Papua Pegunungan 1.481.059 jiwa, dan Papua Barat Daya 632.788 jiwa.
Menurutnya, data kependudukan khusus untuk OAP menjadi indikator utama dalam penyusunan program. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan memperbaiki dan memperkuat validitas data penduduk OAP.
"Pak Menteri (Menteri Dalam Negeri) sudah perintahkan untuk kita harus melakukan sensus data Orang Asli Papua, karena kalau tidak begini dia (program) tidak akan menyasar. Kenapa data ini penting? Karena data ini turut menentukan penentuan dana (otsus dan dana lainnya)," ujar Ribka.
Prinsip Otonomi Khusus: Afirmasi, Proteksi, dan Pemberdayaan
Ribka menambahkan, implementasi kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) Papua harus berlandaskan pada tiga prinsip utama, yaitu afirmasi, proteksi, dan pemberdayaan bagi OAP. Ketiga prinsip tersebut harus menjadi perhatian pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Hal ini termasuk dalam pelaksanaan kewenangan khusus dan afirmasi politik bagi OAP di Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) maupun Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK).
"Ini penting sekali sehingga kesempatan ini, hal-hal seperti ini, ya, kita akan evaluasi. Saya sudah sampaikan, kita akan bekerja untuk MRP (Majelis Rakyat Papua), DPRK, kita akan minta hasil kinerja mereka," tuturnya.
Sensus untuk Mengukur Tingkat Kesejahteraan
Lebih lanjut, Ribka menegaskan bahwa sensus OAP bertujuan mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat Papua secara lebih komprehensif, mulai dari kondisi perumahan, pendidikan, hingga kesehatan masyarakat, melalui sistem yang terintegrasi dan berdasarkan prinsip interoperabilitas.
Untuk itu, ia mendorong Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) se-Tanah Papua untuk mengawal program ini dengan baik.
"Jadi tolong sosialisasikan kepada masyarakat kita, kita akan ada sensus dengan BPS dan Kementerian Dalam Negeri. Kita akan sensus untuk mengukur tingkat kesejahteraan," pungkasnya.
Rakor tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen, Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Provinsi Papua Lukas Christian Sohilait, kepala Dinas Dukcapil se-Tanah Papua, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-Tanah Papua.



