Rapat kerja Komisi I DPRD Jawa Barat bersama Koordinator dan Pendukung Usulan Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat pada Kamis (2/7/2026) menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan aspirasi perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda ke tahapan legislasi resmi. Keputusan ini diumumkan pada Jumat (3/7/2026) dan menjadi angin segar bagi para pengusul yang telah memperjuangkan ide ini sejak 2013.
Alasan Historis dan Kultural
Koordinator tim pengusul, Ganjar Kurnia, menegaskan bahwa usulan ini bukan sekadar pergantian identitas administratif, melainkan upaya mengembalikan eksistensi Sunda yang selama ini dianggap hilang dari peta administrasi. "Ya banyak hal ya. Tapi paling tidak tadi saya sampaikan, kalau untuk saya sendiri, paling tidak kita membuat monumen gitu. Karena Sunda itu, istilah Sunda itu kan sangat besar secara geologis. Itu kan ada paparan Sunda, ada Sunda Besar, ada Sunda Kecil, yang kemudian sebetulnya secara administratif tuh menjadi tidak ada. Sekarang kan namanya hanya jadi Jawa Barat saja," kata Ganjar.
Menurut Ganjar, nama Sunda memiliki kekuatan sosiologis, kultural, dan psikologis yang berkaitan dengan jati diri masyarakat. "Padahal istilah Sunda itu mempunyai kekuatan-kekuatan sosiologis, kekuatan kultural, kekuatan psikologis yang berkaitan dengan jati diri yang ujung-ujungnya nanti tadi bisa membangun ekonomi, membangun semangat, etos kerja dan sebagainya," ujarnya.
Wilayah Tatar Sunda yang Semakin Tergerus
Secara historis, wilayah Tatar Sunda membentang dari Banten hingga Sungai Cipamali yang kini menjadi batas Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, perubahan administrasi pemerintahan membuat identitas tersebut perlahan memudar. "Tapi paling tidak menurut saya, kalau saya sendiri ya, secara geografis kita tuh sudah nggak ada lagi. Mana dulu Tatar Sunda begitu luasnya? Nah sekarang kan nggak ada lagi istilah-istilah Sunda. Hanya ada yang namanya Jawa Barat," ucap Ganjar.
Ia menambahkan bahwa Jakarta dulu secara administratif masuk ke wilayah Sunda, demikian pula Banten. "Dulu Jakarta aja kan itu masuk ke wilayah Sunda secara administratif. Banten juga itu adalah wilayah Sunda. Dan sejarah menunjukkan bahwa Tatar Sunda itu mulai dari Banten itu sampai ke Cipamali bagian dari Jawa Tengah. Itu kan sudah nggak ada sama sekali. Kalau bagi saya itu sebetulnya salah satunya," lanjutnya.
Perjuangan Sejak 2013 dan Kekhawatiran Pemekaran
Ganjar mengungkapkan bahwa perjuangan mengubah nama provinsi ini telah dilakukan sejak 2013. Selama kurun waktu tersebut, berbagai kekhawatiran menjadi tantangan utama, salah satunya anggapan bahwa perubahan nama akan memicu tuntutan pemekaran wilayah. Meski demikian, tim pengusul tetap optimis dan terus menggalang dukungan.
Persetujuan Seluruh Fraksi DPRD
Ketua Komisi I DPRD Jawa Barat Rahmat Hidayat Djati memastikan bahwa hasil rapat menyepakati usulan tersebut untuk diproses melalui mekanisme legislasi yang berlaku. "Menyetujui untuk dilanjut dalam proses legislasi yang resmi terkait usulan perubahan nama provinsi," ungkap Rahmat.
Rahmat menambahkan bahwa seluruh fraksi yang hadir dalam rapat memberikan persetujuan. "Maka setelah ada rapat ketiga ini, tim pengusul menyampaikan ini yang ketiga dihadiri lengkap fraksi yang semuanya menyetujui usulan aspirasi perubahan nama Jabar jadi Sunda untuk ditindaklanjuti ke proses tahapan legislasi berikutnya," tuturnya.
Langkah Selanjutnya
Dengan persetujuan ini, usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda akan memasuki tahapan legislasi formal di DPRD Jawa Barat. Proses ini akan melibatkan pembahasan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pembentukan panitia khusus dan pengajuan ke pemerintah pusat. Masyarakat Jawa Barat, khususnya para pendukung perubahan nama, menantikan realisasi dari aspirasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari satu dekade.



