Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Inggris pernah terlibat dalam Perang New Orleans, sebuah pertempuran yang seharusnya tidak perlu terjadi. Penyebabnya adalah keterlambatan penyebaran informasi tentang perjanjian damai yang telah disepakati kedua negara. Akibatnya, pasukan di medan tempur tidak mengetahui bahwa perdamaian telah tercapai.
Latar Belakang Perang New Orleans
Menurut Ensiklopedia Britannica, pada musim gugur tahun 1814, armada Inggris yang terdiri dari lebih dari 50 kapal berlayar menuju Teluk Meksiko di bawah pimpinan Jenderal Edward Pakenham. Mereka bersiap menyerang New Orleans, kota yang terletak strategis di muara Sungai Mississippi, wilayah AS. Inggris ingin merebut New Orleans guna memperluas wilayah yang diperoleh AS pada tahun 1803.
Pada 1 Desember 1814, Jenderal Andrew Jackson, komandan Distrik Militer Ketujuh AS, bergegas mempertahankan kota tersebut. Setelah tiba di New Orleans, ia mendapat laporan bahwa pasukan Inggris telah terlihat di dekat Danau Borgne, sebelah timur kota. Jackson segera menyatakan darurat militer dan memobilisasi setiap pria untuk bersiap berperang.
Lebih dari 4.000 orang datang membantu, termasuk bangsawan, budak yang dibebaskan, orang-orang Choctaw, dan bajak laut Jean Lafitte. Jackson juga mengerahkan warga sipil, tentara, dan budak untuk membangun benteng pertahanan yang membentang dari Sungai Mississippi hingga rawa besar.
Pertempuran Sengit di Perkebunan Chalmette
Pertempuran terjadi di luar New Orleans, tepatnya di Perkebunan Chalmette. Pasukan Amerika terbagi menjadi dua posisi pertahanan: satu di tepi timur Sungai Mississippi dipimpin Jackson dengan sekitar 4.000 pasukan, dan satu di tepi barat dipimpin Jenderal David Morgan dengan sekitar 1.000 pasukan dan 16 meriam. Setelah beberapa pertempuran kecil, Amerika menunggu serangan besar Inggris.
Pada pagi hari 8 Januari, Pakenham memimpin sekitar 8.000 pasukan Inggris untuk menerobos garis pertahanan Amerika. Begitu memasuki jarak tembak, pasukan Inggris dihujani tembakan hebat. Pertempuran berlangsung sekitar dua jam. Meskipun kalah jumlah, pasukan Amerika melukai sekitar 2.000 tentara Inggris, sementara 65 orang tewas.
Perjanjian Damai yang Telat Diketahui
Ironisnya, perang ini seharusnya tidak terjadi. Kedua negara telah menyepakati perjanjian damai di Belgia pada 24 Desember 1814, yang dikenal sebagai Perjanjian Ghent. Kedua negara sepakat berdamai karena kekuatan yang seimbang, dan konsesi wilayah dibatalkan. Perjanjian itu juga menetapkan bahwa sengketa perbatasan antara Kanada dan AS harus dirujuk ke komisi arbitrase. Selain itu, AS dan Inggris sepakat untuk berupaya menghapuskan perdagangan budak internasional.
Sayangnya, perjanjian damai ini telat disebar ke pasukan militer kedua negara. Akibatnya, perang tetap terjadi karena kedua pasukan belum mengetahui bahwa pemimpin mereka telah sepakat berdamai.



