Patung Jenderal Sudirman Batal Dipindah, Pramono Anung Akhiri Polemik
Patung Jenderal Sudirman Batal Dipindah, Akhiri Polemik

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi membatalkan rencana pemindahan Patung Jenderal Sudirman yang sempat menjadi polemik di tengah masyarakat. Keputusan ini diumumkan pada Minggu, 21 Juni 2026, menandai akhir dari perdebatan panjang mengenai nasib monumen ikonik di kawasan Dukuh Atas tersebut.

Latar Belakang Rencana Pemindahan

Rencana pemindahan patung berawal dari ambisi Pemerintah Provinsi Jakarta bersama Kementerian Perhubungan untuk mengembangkan kawasan Dukuh Atas menjadi kawasan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD). Kawasan ini direncanakan menjadi titik integrasi empat moda transportasi berbasis rel: LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, MRT Jakarta, dan Kereta Bandara. Desain penataan yang megah itu sempat mengusik posisi patung Jenderal Sudirman yang berdiri di tengah Jalan Sudirman-MH Thamrin.

Pada akhir September 2025, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan adanya rencana untuk menggeser patung tersebut. Tujuannya adalah memperlancar integrasi antarstasiun, terutama bagi komuter yang berjalan kaki dari Stasiun Sudirman menuju Stasiun BNI City atau MRT Dukuh Atas. Gubernur Pramono Anung saat itu mengamini rencana tersebut. Ide awalnya adalah memindahkan patung ke arah utara, tepat di perbatasan Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Pertimbangannya adalah memberikan panggung yang lebih terhormat agar patung lebih mudah dilihat dan dinikmati keindahannya, menjadi ikon penataan kota yang futuristik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Apalagi kalau sedang macet, patung itu akan nampak lebih baik dan bisa dinikmati oleh warga Jakarta,” ujar Pramono saat melempar wacana itu pada Oktober 2025. Ia optimistis pemindahan ini akan menjadi bagian dari wajah baru Jakarta yang sejalan dengan pembangunan pedestrian deck raksasa yang diproyeksikan rampung dalam beberapa tahun ke depan.

Polemik di Masyarakat

Wacana pemindahan patung segera memicu polemik di masyarakat. Sebagian warga menilai pemindahan diperlukan demi modernisasi kota, namun tidak sedikit yang merasa posisi patung saat ini memiliki nilai historis dan lanskap emosional yang kuat bagi warga Jakarta. Patung Jenderal Sudirman telah lama menjadi salah satu penanda kota paling ikonik, dan pemindahannya dianggap dapat menghilangkan nilai sejarah yang melekat.

Mendengar riuh rendah suara warganya, Pramono Anung memilih untuk mengevaluasi kembali keputusan tersebut. Alih-alih memaksakan cetak biru awal, politikus senior ini memutuskan untuk merenungkan langkah yang tepat.

Keputusan Akhir: Patung Tetap di Tempatnya

Pada Minggu, 21 Juni 2026, Pramono Anung mengumumkan pembatalan rencana pemindahan Patung Jenderal Sudirman. “Yang paling penting, setelah kami merenungkan berhari-hari, Patung Jenderal Sudirman tetap akan berada di tempat ini. Jadi tidak akan kami geser,” tegas Pramono di hadapan awak media.

Keputusan ini diambil untuk menyudahi silang pendapat dan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat. Meski patung tidak dipindahkan, proyek TOD Dukuh Atas dan pembangunan pedestrian deck yang ditargetkan selesai pada 2028 dipastikan tetap berjalan sesuai rencana.

Dampak dan Harapan ke Depan

Pembatalan pemindahan patung ini disambut lega oleh banyak pihak yang mengkhawatirkan hilangnya ikon sejarah Jakarta. Patung Jenderal Sudirman tetap berdiri tegak di lokasi semula, menjadi saksi bisu pembangunan kota yang terus berkembang. Keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah mendengarkan aspirasi masyarakat dan menghargai nilai historis sebuah monumen.

Dengan tetap berjalannya proyek TOD Dukuh Atas, diharapkan integrasi transportasi di kawasan tersebut dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan simbol-simbol sejarah yang telah menjadi bagian dari identitas Jakarta.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga