Menteri Agama Minta Akselerasi Program Makan Bergizi Gratis untuk Pesantren
Menag Minta Akselerasi MBG untuk Pesantren

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa santri di pondok pesantren merupakan kelompok yang paling membutuhkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, setelah hampir dua tahun program ini berjalan, hanya sebagian kecil santri yang telah menerima manfaat. Data menunjukkan bahwa baru sekitar satu persen santri di pesantren yang tersentuh program tersebut.

Hanya Satu Persen Santri yang Tersentuh MBG

Dalam rapat terbatas tentang Perbaikan Tata Kelola MBG di Jakarta, Rabu (29/7/2026), Nasaruddin menegaskan perlunya akselerasi untuk memperluas jangkauan program ke pondok pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Ia menyatakan, "Pondok pesantren ini boleh dikatakan yang paling memerlukan sentuhan, tetapi ternyata baru satu persen yang bisa tersentuh oleh program ini." Pernyataan ini dikutip dari Antara.

Ketimpangan Distribusi MBG

Program MBG yang digulirkan pemerintah bertujuan meningkatkan gizi anak-anak sekolah, termasuk di lembaga pendidikan keagamaan. Namun, realisasinya masih timpang. Hingga kini, sebagian besar penerima MBG berasal dari sekolah umum, sementara pesantren dan madrasah masih minim akses. Menag menilai hal ini perlu segera dibenahi agar santri tidak tertinggal dalam hal asupan gizi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut data Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28.000 pondok pesantren di Indonesia dengan total santri mencapai jutaan. Jika program MBG hanya menyentuh satu persen, maka masih ada sekitar 99 persen santri yang belum mendapatkan manfaat. Angka ini menunjukkan urgensi perluasan program.

Langkah Akselerasi yang Diusulkan

Nasaruddin mengusulkan beberapa langkah untuk mempercepat perluasan MBG ke pesantren. Pertama, melakukan pemetaan data pesantren yang membutuhkan bantuan. Kedua, meningkatkan koordinasi antara Kementerian Agama dengan Badan Gizi Nasional, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MBG. Ketiga, mengalokasikan anggaran khusus untuk pesantren dan madrasah dalam program ini.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi keagamaan. "Kami berharap ada sinergi antara pusat dan daerah, serta melibatkan tokoh masyarakat untuk memastikan program ini tepat sasaran," ujarnya.

Dampak Gizi bagi Santri

Program MBG diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar santri. Banyak santri yang berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga asupan gizi mereka sering kali terbatas. Dengan MBG, santri mendapatkan makanan bergizi secara gratis di lingkungan pesantren. Hal ini tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik, tetapi juga kemampuan kognitif mereka dalam mempelajari ilmu agama dan umum.

Tantangan Implementasi di Pesantren

Meski demikian, ada sejumlah tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah infrastruktur dapur umum yang belum memadai di banyak pesantren. Selain itu, sistem distribusi bahan pangan ke daerah terpencil juga menjadi kendala. Pemerintah perlu menyiapkan solusi logistik yang efektif agar MBG dapat menjangkau pesantren di pelosok.

Menag juga menyoroti perlunya sosialisasi agar pengurus pesantren memahami mekanisme program. "Jangan sampai program ini tidak dimanfaatkan karena kurang informasi," tegasnya.

Harapan ke Depan

Dengan akselerasi yang diminta, Nasaruddin optimis bahwa dalam waktu dekat cakupan MBG di pesantren bisa meningkat signifikan. Ia menargetkan minimal 50 persen santri dapat menerima manfaat pada tahun depan. Untuk itu, diperlukan komitmen semua pihak, termasuk DPR dan kementerian terkait, untuk mendukung perluasan program.

Program MBG sendiri merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Dengan menyasar pesantren, pemerintah tidak hanya memenuhi hak gizi anak, tetapi juga memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga