Korsel Persempit Zona Penyangga Sipil di Perbatasan Korut Mulai 2027
Korsel Persempit Zona Penyangga Sipil di Perbatasan Korut

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sepanjang Zona Demiliterisasi yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara, Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengumumkan bahwa warga dan petani akan memperoleh akses ke area yang lebih luas di dekat perbatasan mulai tahun 2027.

Pengurangan Zona Pembatas Sipil

Pengumuman dari Kementerian Pertahanan yang disampaikan pada Rabu (17 Juni 2026) menyatakan bahwa Civilian Control Line (CCL) atau zona pembatas sipil yang berada di bawah kendali militer di sisi selatan perbatasan, akan dipangkas dari 10 kilometer menjadi sekitar 6 kilometer. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan dengan lingkungan keamanan di masa depan dan mengurangi jumlah personel militer, sambil tetap memastikan kondisi operasional tetap terjaga.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu Back mengatakan, "CCL dibentuk untuk membatasi akses warga sipil dan menjamin kelancaran operasi militer, tetapi belakangan muncul semakin banyak tuntutan agar sistem pengawasan tersebut diperkuat dan disesuaikan." Ia menambahkan, "Kami telah menyusun rencana penyesuaian CCL untuk menyesuaikan dengan lingkungan keamanan di masa depan, di tengah berkurangnya jumlah personel militer, sambil tetap memastikan kondisi operasional tetap terjaga."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Aturan Aktivitas Warga di Sekitar Perbatasan

Dalam aturan CCL, warga Korea Selatan memerlukan izin militer untuk tinggal atau bertani di wilayah tersebut. Para pengamat menilai kondisi itu membuat masyarakat setempat menghadapi berbagai kerugian ekonomi. "Kami akan memperbolehkan pembangunan daerah, sejauh tidak mengganggu operasi militer," ujar Ahn Gyu Back.

Warga menyambut baik kebijakan tersebut karena dinilai dapat memperluas aktivitas pertanian sekaligus mendorong pembangunan dan pariwisata di kawasan perbatasan. Kepada kantor berita AFP, anggota dewan daerah Ganghwa, Park Heung Yeol, mengatakan bahwa pembangunan, bahkan di atas lahan milik pribadi yang berada dalam kawasan pengawasan, tetap memerlukan persetujuan militer.

Sejarah dan Dampak CCL

Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih berada dalam kondisi perang, karena konflik kedua negara berakhir dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai. CCL dibentuk setelah Perang Korea pada 1950 hingga 1953 untuk mengendalikan akses serta melindungi instalasi militer di sepanjang perbatasan kedua negara. Saat ini, zona tersebut membentang hingga sekitar 7 kilometer di selatan Garis Demarkasi Militer di wilayah barat dan hingga 10 kilometer di wilayah timur.

Meski berfungsi sebagai zona penyangga keamanan bagi Korea Selatan, keberadaan CCL juga kerap menyulitkan kehidupan sehari-hari warga yang ingin mengembangkan lahan mereka. Kepala Daerah Yeoncheon, Kim Deok Hyeon, mengatakan kepada AFP bahwa kebijakan baru tersebut akan "secara signifikan mengurangi kesulitan yang dihadapi para petani setempat." Kebijakan itu juga mencakup penyederhanaan besar dalam prosedur perizinan penerbangan drone pertanian.

Reaksi dan Konteks Lebih Luas

Para pakar menilai langkah tersebut kecil kemungkinannya dapat memicu reaksi Pyongyang karena hanya menyangkut wilayah perbatasan yang berada di sisi Korea Selatan. Pada tahun 2025, Korea Selatan mencabut pengeras suara yang digunakan untuk menyiarkan musik K-pop dan siaran berita ke Korea Utara. Langkah itu diambil pemerintah Lee Jae Myung sebagai upaya meredakan ketegangan dengan negara tetangganya yang terisolasi secara diplomatik dan memiliki senjata nuklir tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga