Iran telah menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk menegosiasikan kesepakatan guna membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade laut Amerika Serikat (AS), dan secara permanen mengakhiri perang yang tengah berkecamuk di Iran dan Lebanon, markas kelompok Hizbullah. Hal ini diungkapkan dalam proposal revisi 14 poin yang diajukan Teheran kepada Washington pada Kamis (30/4) pekan lalu, sebagaimana dilaporkan oleh media AS Axios yang dikutip oleh Anadolu Agency dan Middle East Monitor pada Senin (4/5/2026).
Isi Proposal Iran
Dua sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut mengungkapkan bahwa proposal Iran menetapkan tenggat waktu satu bulan yang ketat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan itu mencakup akses maritim, pengakhiran blokade angkatan laut AS, serta gencatan senjata yang langgeng di kedua front, yaitu Iran dan Lebanon. Setelah kesepakatan awal tercapai, Teheran memvisualisasikan fase kedua yang meluncurkan negosiasi tambahan selama satu bulan dengan fokus pada program nuklir Iran.
Tanggapan Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan yang beragam. Pada Sabtu (2/5), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan meninjau proposal tersebut selama penerbangan dari Palm Beach menuju Miami. “Saya sedang mempelajarinya. Saya akan memberi tahu Anda nanti. Mereka memberi tahu saya tentang konsep kesepakatan itu. Mereka akan memberi saya kata-kata yang tepat sekarang,” ujarnya. Namun, beberapa saat kemudian, Trump menunjukkan nada yang lebih keras melalui pernyataan di Truth Social. Ia menyatakan bahwa dirinya “tidak dapat membayangkan bahwa itu akan dapat diterima”. Trump juga bersikeras bahwa Iran “belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan kepada umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir”.
Blokade Dinilai Ramah oleh Trump
Dalam pernyataan yang sama, Trump menggambarkan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan yang “sangat ramah” dan tidak terbantahkan. Ia menegaskan bahwa blokade tersebut tidak bertentangan dengan klaimnya bahwa permusuhan telah “diakhiri”. Sebelumnya, pada Jumat (1/5), Trump juga mengaku tidak puas dengan proposal terbaru Iran. Ketika ditanya apakah ia dapat memerintahkan serangan baru terhadap Iran, Trump menjawab, “Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk — tetapi saat ini, kita akan melihat. Ada kemungkinan hal itu bisa terjadi, tentu saja.”
Proposal Iran ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara, terutama setelah perang yang melibatkan AS dan Israel di Iran serta Lebanon pada Maret lalu. Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis bagi pasokan minyak global, menjadi salah satu poin utama dalam negosiasi. Iran menuntut pembukaan kembali selat tersebut sebagai bagian dari kesepakatan, sementara AS terus mempertahankan blokade lautnya.



