Iran vs AS Saling Serang Meski Gencatan Senjata Masih Berlaku
Iran vs AS Saling Serang di Tengah Gencatan Senjata

Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berada dalam fase gencatan senjata yang diterapkan sejak 7 April 2026. Namun, kedua negara tetap terlibat saling serang meskipun gencatan senjata berlaku.

Kronologi Serangan

Menurut catatan detikcom, Minggu (10/5/2026), perselisihan dimulai oleh AS. Iran menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah menyerang kapal tanker milik Iran. Dilansir AFP, Jumat (8/5), Iran mengatakan AS menargetkan kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di seberang Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab. Iran juga menyebut AS melakukan serangan di tempat lain di selatan dan bekerja sama dengan beberapa negara di kawasan itu.

Komando pusat militer Iran mengatakan pasukan Iran telah menyerang kapal-kapal militer AS sebagai tindakan balasan. Dilansir BBC, kantor berita Iran, Fars, melaporkan ledakan di dekat kota Bandar Abbas, Iran. Fars menyatakan bahwa asal dan lokasi pasti suara tersebut masih belum diketahui. Investigasi Fars menunjukkan adanya baku tembak antara angkatan bersenjata Iran dan musuh, dengan bagian komersial dermaga di Qeshm menjadi target. Sementara itu, kantor berita Tasnim mengatakan ledakan terdengar di dekat Pulau Qeshm dan Bandar Abbas, dan beberapa sumber mengatakan suara tersebut terkait dengan operasi Angkatan Laut IRGC yang memperingatkan kapal tentang jalur tidak sah melalui Selat Hormuz. Ledakan juga terdengar di Teheran menurut media lokal. AS belum berkomentar sejauh ini.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

AS Hancurkan Kapal Iran di Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump buka suara usai tentara AS menyerang kapal tanker Iran di Selat Hormuz. Trump mengatakan serangan itu sebagai bentuk balasan. Dilansir CNN International dan AFP, Jumat (8/5), Trump menyebut Iran lebih dahulu menyerang tiga kapal militer AS yang tengah melintas di perairan Hormuz. Serangan itu memantik respons balasan dari tentara AS. Trump menulis di Truth Social: "Tiga Kapal Perusak Amerika Kelas Dunia baru saja melintasi Selat Hormuz dengan sangat sukses, di bawah tembakan. Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar terjadi pada penyerang Iran. Mereka hancur total bersama dengan banyak kapal kecil yang digunakan untuk menggantikan Angkatan Laut mereka yang telah sepenuhnya hancur." Trump menyebut kapal AS menjadi sasaran drone dan rudal dari pasukan Iran, tetapi serangan itu bisa dipatahkan. "Rudal ditembakkan ke kapal perusak kita, dan dengan mudah dijatuhkan. Demikian pula, drone datang, dan hangus terbakar di udara," jelas Trump.

Iran Balas Serang Kapal AS

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal militer AS di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). IRGC menuduh AS terlebih dahulu melanggar gencatan senjata dengan menggempur kapal tanker dan area sipil di Iran bagian selatan. Dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (8/5), IRGC mengatakan operasi terhadap kapal militer AS dilancarkan setelah pelanggaran gencatan senjata oleh Washington. Juru bicara markas besar militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan AS menargetkan kapal tanker minyak Iran di dekat pelabuhan Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal Iran lainnya di dekat pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Zolfaghari juga menuduh AS menyerang area sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm di Iran bagian selatan, dengan kerja sama beberapa negara regional. Angkatan Bersenjata Iran segera merespons dengan menyerang kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan signifikan. IRGC menyebut pasukan Angkatan Lautnya melancarkan operasi gabungan skala besar dan presisi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, dan drone peledak yang menargetkan kapal perusak AS. Penilaian intelijen Iran menunjukkan sejumlah kapal militer AS mengalami kerusakan signifikan dan tiga kapal perusak AS lainnya mundur dari area Selat Hormuz menuju Laut Oman. Stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan bahwa unit-unit musuh yang menjadi target serangan mengalami kerusakan dan terpaksa mundur.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Jet Tempur AS Tembaki Kapal Tanker Iran

Militer AS mengerahkan jet tempur yang melepas tembakan untuk melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran pada Jumat (8/5) waktu setempat. Washington menuduh kedua kapal tanker Iran itu berusaha melanggar blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran. Dengan insiden terbaru itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/5/2026), AS sejauh ini telah menghentikan secara paksa empat kapal yang mencoba melanggar blokade laut di sekitar Selat Hormuz yang diberlakukan sejak 13 April lalu. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa jet tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut AS telah melumpuhkan kapal M/T Sea Star III dan M/T Sevda dengan menembakkan amunisi presisi ke cerobong asap mereka, mencegah kapal yang tidak patuh tersebut memasuki Iran. CENTCOM menyertakan rekaman video yang menunjukkan momen serangan terhadap kedua kapal tersebut.

Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku

Usai saling balas serangan, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlaku. Trump menilai serangan Teheran terhadap kapal perang Washington sebagai hal sepele. Saat ditanya wartawan apakah gencatan senjata masih berlaku meskipun ada serangan, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/5/2026), Trump menjawab: "Iya, masih berlaku." "Mereka (Iran) mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka. Mereka mempermainkan kita. Saya menyebut itu hal sepele," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungan melihat renovasi Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington DC pada Kamis (7/5) waktu AS. Penegasan Trump disampaikan setelah militer AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, dengan kedua negara saling menuduh satu sama lain sebagai yang terlebih dahulu melanggar gencatan senjata.