Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa konflik baru kemungkinan besar akan terjadi setelah perundingan perdamaian antara kedua negara menemui jalan buntu. Peringatan ini disampaikan oleh Wakil Inspektur Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Jafar Asadi, pada Sabtu (2/5/2026).
AS Dinilai Tidak Berkomitmen
Menurut laporan kantor berita AFP, Asadi menilai Presiden AS Donald Trump tidak konsisten dengan janji-janjinya. Ia bahkan mengkritik proposal terbaru yang diajukan Iran dalam negosiasi tersebut. "Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjadi, dan bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun," ujar Asadi seperti dikutip oleh kantor berita Fars Iran.
Trump Sebut Dua Opsi
Sebelumnya, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal damai terbaru dari Iran. Ia mengungkapkan bahwa AS saat ini memiliki dua pilihan untuk mengakhiri perang dengan Iran. "Ada beberapa pilihan," kata Trump kepada CNN International.
Pilihan pertama, menurut Trump, adalah AS akan melancarkan serangan besar-besaran untuk menghancurkan Iran secara permanen. Sementara pilihan kedua adalah mengupayakan perdamaian melalui jalur negosiasi. "Apakah kita ingin langsung membombardir mereka habis-habisan dan menghancurkan mereka selamanya? Atau apakah kita ingin mencoba mencapai kesepakatan? Itulah pilihannya," jelas Trump.
Trump menegaskan bahwa secara pribadi ia lebih memilih opsi kedua, yaitu negosiasi. "Secara kemanusiaan, saya lebih memilih untuk tidak melakukannya," katanya merujuk pada serangan militer. "Tetapi itulah pilihannya. Apakah kita ingin menyerang mereka secara besar-besaran dan menghancurkan mereka atau apakah kita ingin melakukan sesuatu?" sambungnya.
Negosiasi Terhenti
Negosiasi perdamaian antara Iran dan AS sempat terhenti. Iran kemudian mengirimkan proposal terbaru untuk memulai kembali perundingan dengan AS. Namun, ketidakpuasan Trump terhadap proposal tersebut semakin memperkeruh situasi.
Pernyataan Iran ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung, termasuk isu blokade di Selat Hormuz yang sebelumnya disebut Trump menguntungkan AS. Situasi ini menunjukkan bahwa potensi konflik baru antara kedua negara masih sangat terbuka.



