Wakil Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, M.S. menyatakan bahwa kebijakan penutupan program studi (prodi) yang sepi peminat merupakan langkah yang masuk akal. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut harus didasarkan pada kajian yang komprehensif dan matang.
Pertimbangan Penutupan Prodi
Menurut Prof. Nuhfil, penutupan prodi bisa menjadi solusi efisien bagi perguruan tinggi. "Banyak prodi dengan jumlah mahasiswa sangat sedikit, bahkan di bawah 10 orang per angkatan. Ini tidak efisien secara operasional," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa penutupan tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.
Dampak Sosial dan Akademik
Penutupan prodi memiliki dampak luas, tidak hanya bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, tetapi juga bagi tenaga pengajar dan staf. "Kita harus memikirkan nasib dosen dan tenaga kependidikan. Jangan sampai mereka kehilangan pekerjaan tanpa solusi," tambahnya. Selain itu, mahasiswa yang sudah terdaftar harus dijamin penyelesaian studinya.
Perlunya Kajian Mendalam
Prof. Nuhfil menekankan bahwa setiap usulan penutupan prodi harus melalui kajian akademik dan kebutuhan pasar. "Kita perlu melihat data serapan lulusan, minat calon mahasiswa, dan relevansi kurikulum. Jangan sampai prodi yang ditutup justru dibutuhkan di masa depan," jelasnya. Ia juga menyarankan agar universitas melakukan transformasi prodi, bukan sekadar menutup.
Alternatif Solusi
Sebagai alternatif, UB telah melakukan beberapa langkah, seperti menggabungkan prodi serumpun atau mengubahnya menjadi program peminatan. "Kami juga membuka prodi baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, seperti program studi di bidang teknologi digital," kata Prof. Nuhfil. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan institusi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.
Kebijakan penutupan prodi memang menjadi isu sensitif di kalangan akademisi. Namun, dengan kajian yang tepat dan komunikasi yang baik, diharapkan keputusan yang diambil dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.



