Gelombang panas yang semakin sering melanda Eropa membuat jutaan warga kesulitan beradaptasi dengan suhu ekstrem yang terus memecahkan rekor. Namun, berbeda dengan Amerika Serikat, sebagian besar rumah di Eropa justru tidak dilengkapi pendingin ruangan atau AC.
Warga Eropa Bertahan Tanpa AC
Di tengah cuaca yang semakin menyengat, banyak warga Eropa mengandalkan kipas angin, kompres es, hingga mandi air dingin untuk mengurangi rasa gerah. Tempat-tempat yang memiliki pendingin ruangan pun relatif terbatas, seperti dikutip dari CNN pada Rabu (24/6/2026).
Perbedaan Infrastruktur dengan AS
Di Amerika Serikat, AC sudah menjadi fasilitas standar di sebagian besar rumah dan gedung. Namun di Eropa, iklim yang sebelumnya lebih sejuk membuat AC dianggap tidak perlu. Akibatnya, ketika gelombang panas melanda, warga Eropa harus mencari cara alternatif untuk mendinginkan diri.
Menurut data, hanya sekitar 20 persen rumah tangga di Eropa yang memiliki AC, sementara di AS angkanya mencapai 90 persen. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor sejarah, desain bangunan, dan kebiasaan hidup yang berbeda.
Dampak Kesehatan dan Ekonomi
Gelombang panas tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan seperti heatstroke dan dehidrasi. Kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak menjadi yang paling terdampak. Selain itu, permintaan akan kipas angin dan pendingin portabel melonjak drastis, menyebabkan harga melambung.
Beberapa negara Eropa mulai mendorong pemasangan AC dengan insentif, namun masih banyak tantangan, termasuk biaya listrik yang tinggi dan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.



