Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, Banten, yang terjadi pada 30 Juni 2026, membutuhkan waktu pemadaman lebih dari satu pekan. Insiden ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di Indonesia tidak hanya soal kapasitas yang penuh. Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, ada sejumlah masalah mendasar di balik kebakaran tersebut.
Tantangan Pengelolaan Sampah dan Praktik Open Dumping
Wahyu mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kebakaran TPA, antara lain tantangan pengelolaan sampah, praktik open dumping, minimnya penerapan teknologi, dan belum optimalnya sistem pencegahan kebakaran. Ia menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak awal. "Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," kata Wahyu dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk "TPA Terbakar Lagi: Apa Kata Sains dan Bagaimana Mencegahnya?" di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2026).
Mengapa TPA Mudah Terbakar?
Secara ilmiah, kebakaran terjadi karena tiga unsur bertemu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, ketiga unsur ini tersedia dalam jumlah besar. Bahan bakar meliputi plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah yang mengering. Gas landfill, termasuk metana, juga meningkatkan risiko pembakaran. "Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan," jelas Wahyu. Namun, untuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik tidak bisa disimpulkan dengan mudah dan memerlukan investigasi mendalam.
Teknologi Deteksi Dini Kebakaran
Wahyu menuturkan risiko kebakaran dapat dicegah lebih dini dengan teknologi seperti sistem pemantauan temperatur, sensor gas, kamera termal, dan drone termal. Alat-alat ini mendeteksi titik panas (hotspot) sebelum berkembang menjadi kebakaran besar. Parameter yang dipantau meliputi suhu permukaan, konsentrasi gas, kelembapan udara, jumlah hari tanpa hujan, dan kecepatan angin. "Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia," katanya.
Solusi Pencegahan Kebakaran TPA
Pencegahan kebakaran TPA harus dimulai dari hulu, yaitu mengurangi jumlah sampah campuran yang masuk. Tidak ada teknologi tunggal yang terbaik; pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik daerah. "Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat, sehingga fasilitas akhir pada akhirnya lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol," pungkas Wahyu.



