Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa biaya perang melawan Iran telah meningkat menjadi hampir US$ 29 miliar, atau setara Rp 506,9 triliun, sejauh ini. Konflik yang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari lalu.
Kenaikan Biaya Operasi Militer
Membengkaknya biaya perang itu diungkapkan saat Presiden AS Donald Trump menghadapi pengawasan yang semakin ketat di dalam negara atas konflik tersebut dan dampaknya terhadap kesiapan militer AS. Besarnya biaya perang melawan Iran itu, seperti dilansir AFP, Rabu (13/5/2026), diungkapkan dalam rapat anggaran di Capitol Hill, atau kompleks parlemen AS, pada Selasa (12/5) waktu setempat. Angka tersebut tercatat lebih tinggi sekitar US$ 4 miliar (Rp 69,9 triliun) dari perkiraan Pentagon sebelumnya yang disampaikan dua minggu lalu.
Rapat Anggaran di Parlemen AS
Dalam rapat anggaran di parlemen AS, Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine, dan kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III dicecar soal biaya perang Iran saat membahas pengajuan anggaran pertahanan tahun 2027 sebesar US$ 1,5 triliun dari pemerintahan Trump. "Saat testimoni itu ... jumlahnya adalah US$ 25 miliar," kata Hurst, merujuk pada perkiraan yang disampaikan Hegseth saat memberikan testimoni di hadapan parlemen AS pada 29 April lalu. "Namun tim staf gabungan dan tim pengawas keuangan terus-menerus meninjau perkiraan itu, dan sekarang kami memperkirakan itu mendekati 29 (US$ 29 miliar-red)," ucapnya, mengutip pembaruan "biaya perbaikan dan penggantian peralatan" militer serta pengeluaran operasional yang lebih luas.
Kritik dari Partai Demokrat
Partai Demokrat dan para pengkritik perang lainnya mempertanyakan kalkulasi Pentagon, dan menyatakan bahwa biaya sebenarnya -- termasuk kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan balasan Iran -- bisa jauh lebih tinggi. Ketika ditanya kapan Kongres AS akan menerima laporan yang lebih lengkap, Hegseth mengatakan bahwa pemerintah akan meminta "apa pun yang menurut kami dibutuhkan" secara terpisah dari anggaran Pentagon, tanpa memberikan tenggat waktu.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Sesi tanya-jawab antara parlemen AS dengan jajaran pejabat pemerintahan Trump ini digelar ketika gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang rapuh semakin goyah. Trump baru saja mengatakan bahwa gencatan senjata sejak awal April itu berada dalam "kondisi kritis", setelah dia menolak proposal terbaru Iran.
Tudingan Kurang Transparansi
Partai Demokrat dalam parlemen AS memanfaatkan sesi tanya-jawab itu untuk mengecam pemerintahan Trump atas membengkaknya biaya perang, dan apa yang mereka gambarkan sebagai kurangnya transparansi tentang tujuan AS dalam perang tersebut. "Pertanyaan yang harus dijawab pada akhirnya adalah: apa yang telah kita capai dan berapa biayanya?" tanya pemimpin Partai Demokrat dalam Komite Alokasi Anggaran DPR AS, Rosa DeLauro, dalam sesi tanya-jawab tersebut. Partai Demokrat yang menuduh Trump melancarkan perang tanpa otorisasi Kongres AS, telah berulang kali mengajukan langkah-langkah untuk membatasi wewenang perang Presiden AS itu, tetapi selalu diblokir oleh Partai Republik.



