Biaya Ballroom Gedung Putih Trump Bengkak Jadi Rp 10,6 Triliun
Ballroom Gedung Putih Trump Bengkak Rp 10,6 Triliun

Biaya pembangunan ballroom baru di Gedung Putih yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membengkak menjadi US$ 600 juta atau setara Rp 10,6 triliun. Lebih dari separuh biaya proyek yang menuai kritik tersebut berasal dari dana para wajib pajak AS.

Informasi Terbaru dari The Washington Post

Informasi ini, seperti dilansir AFP pada Rabu (17/6/2026), disampaikan oleh media terkemuka AS, The Washington Post, dalam laporannya pada Selasa (16/6) waktu setempat. Laporan ini bertentangan dengan pernyataan yang pernah disampaikan Trump mengenai proyek ballroom baru itu.

Trump sebelumnya memperkirakan biaya pembangunan ballroom itu akan mencapai US$ 400 juta, atau setara Rp 7 triliun. Presiden AS itu juga berulang kali menegaskan bahwa para donatur swasta, termasuk dirinya sendiri, akan menanggung biaya pembangunan ballroom baru di Gedung Putih tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proyek Kontroversial Tanpa Konsultasi Kongres

Ballroom baru di Gedung Putih ini disebut menjadi bagian penting dari upaya Trump untuk memberikan pengaruh di ibu kota AS. Proyek ini dimulai tahun lalu ketika Trump, tanpa memberikan peringatan awal dan tanpa berkonsultasi dengan Kongres AS, merobohkan seluruh gedung Sayap Timur atau East Wing Gedung Putih yang bersejarah.

Dalam laporannya, The Washington Post mengutip salinan biaya terperinci yang disiapkan untuk pemerintahan Trump oleh Clark Construction, kontraktor yang dipekerjakan untuk membangun ballroom baru itu.

Klaim Gedung Putih vs Fakta di Lapangan

Gedung Putih, dalam tanggapannya kepada AFP pada Selasa (16/6), menegaskan bahwa Trump dan para donatur menanggung sebagian besar biaya ballroom itu. "Presiden Trump dan para patriot Amerika yang dermawan mendanai ballroom tersebut sekitar US$ 400 juta, yang akan menjadi tempat yang aman dan layak bagi para Presiden untuk generasi-generasi mendatang," kata juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle.

Ingle menyebut bahwa proyek ballroom itu "terkait erat" dengan keamanan presiden dan aset-aset keamanan lainnya, yang menurut Trump, termasuk empat landasan drone di atap dan rumah sakit di ruang bawah tanah.

Pada akhir Maret lalu, Trump menegaskan kepada wartawan bahwa proyek ballroom tersebut akan menelan biaya hingga US$ 400 juta dan menyebutnya "taxpayer free" atau tidak menggunakan uang wajib pajak.

Namun, berdasarkan laporan The Washington Post, ringkasan yang disiapkan untuk Gedung Putih pada awal bulan Maret sudah memperkirakan total biaya sebesar US$ 600 juta, dengan hanya US$ 293 juta yang berasal dari sumber "swasta". Dan saat Trump menyampaikan pernyataan pada akhir Maret itu, menurut The Washington Post yang mengutip catatan faktur kontraktor yang terlibat, pemerintahannya telah menyetujui lebih dari selusin pembayaran dana publik kepada Clark Construction dengan total puluhan juta dolar Amerika.

Ketika Trump pertama kali mengemukakan gagasan pembangunan ballroom baru itu, dia mengatakan biayanya mencapai US$ 200 juta (Rp 3,5 triliun).

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga