AS Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran, Bos Intelijen Mundur
AS Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran, Bos Intelijen Mundur

Jakarta - Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Iran. Informasi ini muncul di tengah upaya perdamaian yang masih berlangsung, dengan negosiasi tidak langsung yang dimediasi oleh Pakistan.

Informasi tersebut disampaikan oleh media-media terkemuka AS seperti CBS dan Axios, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia tidak akan menghadiri pernikahan putra sulungnya, Donald Trump Jr., pada akhir pekan ini. Trump menyebut "keadaan yang berkaitan dengan pemerintahan" sebagai alasan di balik keputusannya.

Iran Tegaskan Tak Butuh Konsesi AS

Otoritas Iran menegaskan bahwa mereka tidak mencari "konsesi apa pun" dari AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Teheran hanya menginginkan hak-hak mereka dipulihkan dan menyerukan pencabutan sanksi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat; kami hanya memperjuangkan hak-hak kami," tegas Baghaei dalam pernyataannya pada Jumat (22/5) waktu setempat, sebagaimana dilaporkan oleh Tasnim News Agency dan Anadolu Agency.

Bos Intelijen AS Mundur

Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (22/5) waktu setempat. Gabbard menyebut kondisi suaminya yang menderita kanker sebagai alasan di balik keputusannya. Namun, beredar rumor bahwa ia dipaksa mundur oleh Gedung Putih setelah berselisih dengan Trump terkait perang melawan Iran.

Menurut laporan Fox News, Gabbard memberitahu Trump tentang niatnya untuk mundur dalam pertemuan di Ruang Oval. Pengunduran dirinya akan berlaku efektif mulai 30 Juni mendatang.

Ledakan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 90 Orang

Korban tewas akibat ledakan di tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi sedikitnya 90 orang. Insiden yang diduga dipicu oleh ledakan gas ini merupakan bencana pertambangan terburuk di China dalam 17 tahun terakhir.

Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa ledakan terjadi pada Jumat (22/5) malam pukul 19.29 waktu setempat. Sebanyak 247 pekerja berada di bawah tanah saat ledakan terjadi, dan 201 di antaranya telah dievakuasi. Namun, jumlah korban tewas kemudian meningkat drastis menjadi 90 orang.

Trump Ungkap AS Gunakan Minyak Venezuela untuk Biayai Perang Iran

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Washington telah mengekstraksi banyak minyak dari Venezuela untuk menutupi biaya perang melawan Iran. Trump mengklaim bahwa minyak Venezuela telah menutupi biaya perang Iran hingga "25 kali lipat".

Pernyataan ini disampaikan Trump saat berpidato di New York pada Jumat (22/5) waktu setempat, sebagaimana dilansir Al Jazeera dan TRT World.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga